Budidaya Tanaman Bawang Merah Menggunakan Sistem Hidroponik

Kondisi pertanian di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan jika ditinjau dari lahan pertaniannya yang semakin sempit. Hal ini tentu saja berdampak pada swasembada komoditas pertanian yang akan terkendala. Alasan utama yang menyebabkan lahan pertanian semakin sempit ialah hilangnya aktivitas pertanian yang semula ada kemudian digantikan oleh aktivitas lain yang membuat lahan menjadi tidak produktif atau kita kenal dengan istilah alih fungsi lahan. Aktivitas lain tersebut diantaranya adalah pembangunan perumahan, pendirian pabrik yang mulai bergeser ke wilayah pedesaan atau pinggiran kota, pembebasan lahan pertanian untuk projek pemerintahan seperti pembangunan jalan tol, lahan diubah menjadi tempat usaha lain seperti warung makan, toko, dan lain sebagainya.

Berkurangnya lahan pertanian berbanding lurus dengan krisisnya kebutuhan pangan, karena sudah jelas jika lahan pertanian semakin menipis maka produktivitas pertanian pun semakin berkurang. Padahal ketahanan pangan seharusnya lebih ditingkatkan mengingat setiap tahunnya kepadatan penduduk di Indonesia semakin bertambah. Populasi penduduk di Indonesia diperkirakan akan terus meningkat pada tahun 2025, 2035, dan 2045. Populasi ini baru akan menurun di sekitar tahun 2050. Hal ini seharusnya dapat menjadi acuan untuk produktivitas pertanian yang harus lebih ditingkatkan. Nah lantas solusi seperti apa yang dapat dilakukan untuk menghadapi permasalahan semakin sempitnya lahan pertanian? Diantaranya ada solusi dari eksternal atau pemerintahan yaitu dengan kebijakan lahan abadi dimana lahan yang sebelumnya merupakan lahan pertanian produktif tidak boleh dialihfungsikan menjadi kegiatan lain selain usahatani atau dengan membuka lahan-lahan pertanian baru untuk menutupi lahan yang telah beralihfungsi sehingga produktivitas pertanian tetap terjaga dengan baik. Adapun solusi dari internalnya yaitu dengan meningkatkan produktivitas tanaman melalui budidaya yang baik dengan memanfaatkan benih-benih yang unggul. Solusi lainnya yaitu dengan mengoptimalkan lahan sempit untuk produksi tanaman menggunakan sistem urban farming seperti vertikultur dan hidroponik. Dengan demikian, penduduk yang tinggal di wilayah perkotaan dimana lahan pertaniannya jarang juga dapat ikut serta menghasilkan komoditas pertanian tertentu untuk kebutuhannya sehari-hari.

Memiliki keterbatasan lahan tidak menutup kemungkinan kita untuk bercocok tanam. Banyak hal positif yang kita dapatkan dari bercocok tanam ini, selain membuat pekarangan rumah menjadi hijau dan terlihat segar, kita juga dapat mengurangi pengeluaran untuk membeli beberapa kebutuhan dapur jika kita menanamnya sendiri. Selain itu, produk yang dihasilkan juga sudah tentu sehat dan aman untuk dikonsumsi karena kita sendiri yang merawat tanamannya sampai berbuah. Manfaat lainnya ialah kita juga dapat memperoleh penghasilan dari tanaman tersebut jika hasil panen kita melimpah. Kita dapat menjualnya melalui warung-warung di sekitar rumah dengan harga yang setara atau bahkan lebih murah dari harga pasar.

Bawang merah menjadi salah satu komoditas paling dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana tidak, di setiap hidangan makanan utama seringkali kita menemukan bawang merah di dalamnya. Bawang merah memiliki cita rasa khas yang dapat membuat makanan menjadi gurih. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa bawang merah merupakan salah satu komoditas pertanian yang harganya cukup mahal di pasaran. Hal ini disebabkan karena bawang merah bersifat rentan dan mudah gagal panen akibat curah hujan yang tinggi. Ternyata gagal panen ini memiliki dampak besar terhadap produktivitas penanaman bawang merah. Bibit bawang merah yang disimpan oleh para petani menjadi lebih sedikit karena banyak bawang merah yang rusak dan harga bibit bawang merah pun menjadi tinggi. Para petani mengeluhkan hal tersebut dan tak sedikit yang beralih untuk menanam komoditas lain. Tak bisa dipungkiri bahwa permintaan pasar tetaplah stabil sementara stok persediaan bawang merah semakin menipis.

Untuk itu, tidak ada salahnya jika kita menanam bawang merah secara mandiri di rumah. Jangan khawatir untuk yang tidak memiliki lahan luas karena bawang merah dapat ditanam dengan metode hidroponik. Penanaman dengan metode hidroponik ini memiliki kelebihan dimana kualitas produk yang dihasilkan lebih baik daripada yang ditanam dengan menggunakan metode pada umumnya. Berikut akan dipaparkan bagaimana cara menanam dengan metode hidroponik dan cara perawatannya.

  1. Persiapan Alat dan Bahan
  • Kotak plastik untuk menyimpan air minimal memiliki ketinggian 30 cm;
  • Sterofoam yang seukuran dengan kotak plastik;
  • Gelas plastik bekas yang sudah tidak terpakai;
  • Sekam bakar dan tanah;
  • Alat pemotong (gunting danĀ cutter);
  • Benih bawang merah; dan
  • Nutrisi dari hidroponik dan air.

2. Proses Persiapan Bibit

Ketika memilih bibit yang akan ditanam, beberapa hal sangat penting untuk diperhatikan. Diantaranya adalah bibit yang dipilih harus sehat dan tidak memperlihatkan tanda-tanda kebusukan, pilih bibit yang usianya sudah matang dan ukurannya cukup besar, dan perhatikan pertumbuhan tunas.

3. Langkah-Langkah Pembuatan Media Tanam

  • Siapkan kotak plastik
  • Buatlah penutup kotak plastik dengan menggunakan sterofoam, gambar beberapa pola pada sterofoam seukuran dengan diameter gelas plastik lalu lubangi
  • Buat beberapa lubang kecil pada bagian bawah gelas plastik
  • Masukkan kain flanel ke dalam gelas plastik melalui lubang-lubang kecil yang sebelumnya telah dibuat. Kain flanel ini yang akan menjadi penyalur nutrisi dan air untuk tanaman
  • Larutkan nutrisi Mix A dan Mix B masing-masing sebanyak 5 ml ke dalam air kemudian masukan ke dalam kotak plastik dan tutup menggunakan sterofoam yang telah dilubangi
  • Campurkan sekam bakar dan tanah dengan perbandingan 1:1 kemudian isikan ke dalam setiap gelas plastik
  • Masukkan semua gelas plastik ke dalam lubang-lubang yang ada di sterofoam

4. Tahapan Penanaman

  • Pilih bibit bawang merah yang baik dengan ciri kering, mengkilat, dan usianya cukup tua
  • Bersihkan dengan air mengalir lalu potong sebagian kecil menggunakan alat potong seperti gunting atau pisau tanaman
  • Lakukan penyiraman terhadap media tanam seperlunya dengan air bersih
  • Tanam bibit bawang merah ke dalam media tanam hingga setengah bagiannya tertutup
  • Letakkan di tempat yang sejuk namun tetap terkena sinar matahari, biarkan selama 3-4 hari hingga muncul tunas
  • Jangan lupa untuk mengisi ulang nutrisi mix A dan mix B jika sudah mulai terlihat akan habis
  • Jika tunas sudah mencapai tinggi 1-2 cm, tanaman dapat disimpan di tempat yang terkena sinar matahari secara langsung.

5. Proses Perawatan

Untuk mendapatkan hasil panen yang maksimal tentu diperlukan perawatan yang baik dan benar. Perawatan untuk tanaman bawang merah hidroponik ini tidak terlalu sulit. Kita hanya perlu memperhatikan kualitas nutrisi yang diperlukan oleh tanaman, jangan sampai kehabisan atau kekeringan dan jangan sampai tergenang pula. Dosis yang diberikan harus konsisten sesuai dengan dosis yang diberikan di awal. Lakukan pula pengecekan pH secara berkala, pH yang baik ada di kisaran 5-7. Tanaman bawang merah ini dapat dipanen ketika sudah mencapai hari ke-60 hingga hari ke-65. Untuk mendapatkan bibit, cukup biarkan bawang merah menua dan keringkan di bawah sinar matahari.

Daftar Pustaka

Iqbal, Muhammad. 2020. “Cara Menanam Bawang Merah Hidroponik & Pot Untuk Pemula”, https://www.google.com/amp/s/ilmubudidaya.com/cara-menanam-hidroponik-bawang-merah/amp?espv=1, diakses pada 14 November 2020 pukul 17.34

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *