Budidaya Padi Menggunakan Polybag Dengan Sistem Urban Farming

Sumber Gambar: antvklik.com

Padi (bahasa latin: Oryza sativa L.) atau biasa disebut beras merupakan salah satu tanaman budidaya paling penting di negara-negara berkembang khususnya seperti Indonesia (Harjadi, 1983). Konsumen beras terbesar di dunia di pegang oleh Indonesia. Karena kita sudah terbiasa makan dengan nasi (tiga kali sehari) berbeda dengan orang-orang barat yang cenderung mengkonsumsi gandum dan jagung. Menurut data Kementerian Pertanian, Negara Indonesia termasuk penghasil beras terbesar di dunia, yaitu tepatnya ada di posisi ke-3. Karena luas lahan yang digunakan untuk produksi padi terhitung cukup luas, yaitu sekitar 15,8 juta hektar pada tahun 2017. Namun setiap tahun nya negara kita kehilangan ratusan bahkan ribuan hektare lahan pertanian yang dialih fungsikan menjadi lahan properti, infrastruktur, dan lain-lain. Hal ini bisa mengancam lahan pertanian atau sawah di Indonesia, bisa saja semakin lama Indonesia akan kehabisan lahan untuk pertanian, dan lahan penghijauan akan semakin berkurang yang mana bisa mengakibatkan pencemaran udara dan kondisi lingkungan akan menjadi kurang baik.

Guna mengantisipasi peningkatan alih-fungsi area lahan pertanian terutama pada daerah perkotaan, salah satu solusi yang dapat ditempuh adalah dengan cara kita bisa melakukan budidaya padi menggunakan polybag menggunakan sistem Urban Farming. Cara ini sudah lama digunakan untuk tanaman hias dan umunya polybag digunakan untuk menanam sayur-sayuran dan buah buahan seperti stroberi, mentimun, cabai dan jeruk kalamansi. Meskipun solusi ini tidak terlalu berpengaruh untuk negara Indonesia, setidaknya kita bisa membantu masyarakat sekitar dan mengembalikan penghijauan secara perlahan. Padi polybag yaitu penanaman padi yang menggunakan kantung plastik berukuran sekitar 30 – 40 cm.

Urban Farming yaitu bercocok tanam di daerah perkotaan, urban farming sangat membantu untuk penghijauan di daerah perkotaan, baik untuk kesehatan pula karena urban farming menggunakan sistem penanaman organik yang berarti tidak menggunakan pupuk kimia dan pestisida kimia.

Menurut Pusat Penyuluhan Pertanian (2011), Banyak keunggulan penanaman menggunakan polybag diantara nya, seperti: menghasilkan unsur hara yang baik makro maupun mikro, menyediakan ruang tumbuh untuk akar dan sekaligus menopangnya, mampu menyerap air dengan baik, dapat mengalirkan Oksigen dengan baik, tidak menyebabkan menjadi bibit penyakit tanaman, mudah untuk merawatnya, pengontrolan dan pengawasan tanaman lebih jelas untuk pemeliharaan tanaman karena dilakukan per individu, komposisi media tanam bisa diatur, juga nutrisi mudah diserap oleh akar tanaman dan yang lebih penting adalah penghematan dalam penggunaan lahan. Dari sekian banyak keunggulan menggunakan polybag ini juga memiliki kekurangan diantaranya adalah polybag mempunyai daya tahan terbatas maksimal 2 – 3 kali pe­makaian yang mana ini tidak akan bertahan tahan lama yang mengakibatkan polybag tersebut harus diganti secara berkala serta kurang cocok untuk usaha dalam skala yang besar.

Selain mengetahui keunggulan dan kekurangannya, kita harus mengetahui tahapan- tahapan apa saja yang dilalui untuk melakukan budidaya padi dalam polybag ini. Pertama alat dan bahan yang dibutuhkan adalah polybag ukuran 30 – 40 cm, polybag ini yang nantinya akan dijadikan sebagai wadah atau penampung saat menanam padi, pupuk kompos, pupuk kandang sebagai penyubur pada padi dan arang sekam sebagai bahan untuk meningkatkan atau memperbaiki struktur fisik, kimia dan biologi pada tanah agar tanah menjadi gembur dan mampu menyerap air dengan baik (Badan Litbang Pertanian, 2013), selanjutnya ada sekop, sarung tangan, selang dan sudip tangan, ini yang digunakan untuk menanam dan untuk merawat padi kedepannya.

Lalu selanjutnya ada teknik pada budidaya padi dalam polybag ini yakni yang pertama adalah penyemaian benih padi, ini dilakukan agar benih padi bisa beradaptasi dengan wadah yang telah disediakan dan untuk meminimalisir kematian tanaman. Ini adalah salah satu penentu keberhasilan terhadap produksi kedepannya. Berikut adalah cara penyemaian benih padi yakni Siapkan pot tray atau ember lalu masukan campuran arang sekam dan pupuk dengan perbandingan 2:1. Setelah itu, masukan benih kedalam pot tray. Lalu semprot 6 jam sekali agar benih tetap lembab dan perlu dicatat bahwa benih jangan terkena matahari secara langsung dan tunggu hingga 1 minggu. Apabila penyemaian berhasil, maka harus menyiapkan polybag untuk pemindahan pada benih. Menurut Hadisuwito, 2012 mengungkapkan bahwa buatlah campuran pupuk : 25%, pupuk kandang : 30% , arang sekam : 45%, campuran ini bagus untuk padi yang akan dicocoknamankan, campurkan hingga merata setelah tercampur masukan ke polybag dan jangan lupa membuat lubang pada polybag untuk sistem drainase, agar saat proses penyiraman air tidak mengendap. Pada hari penanaman, pindahkan benih padi yang sudah di semai ke polybag dengan perlahan dan jangan terlalu di tekan karena bisa merusak akar benih, biarkan akar di permukaan media tanam atau arang sekam. Simpan di tempat yang terkena sinar matahari jika usia benih padi sudah di atas 4 minggu (Usia di bawah 4 minggu sebaiknya simpan di tempat yang teduh atau tidak terkena sinar matahari secara langsung).

Adapun cara merawat padi dalam polybag agar tidak gagal yakni pada saat usia 2 hingga 3 minggu siram dengan air sebanyak 500 ml atau setara dengan 2 gelas air, usahakan jangan menggunakan selang saat usia di bawah 3 minggu karena akan membuat benih terlempar oleh tekanan air yang besar, saat usia sudah di atas 3 minggu boleh menggunakan selang sebagai alat penyiraman, penyiraman ini di lakukan setiap pagi dan sore hari. Lalu beri pupuk cair ( pupuk kandang dan pupuk organik yang dicairkan ) sebagai nutrisi untuk padi, pemberian pupuk cair dilakukan seminggu sekali dengan takaran 700 ml. kemudian pencabutan gulma setiap hari, karena gulma akan mengganggu pertumbuhan padi seperti mengambil nutrisi yang akan di berikan untuk padi. Lakukan pengontrolan setiap hari supaya pertumbuhan nya bisa kita lihat baik atau tidak. Juga lakukan penyemprotan pestisida alami selama 2 minggu sekali dan lakukan Pengecekan kelembapan tanah menggunakan alat soil pH moisture meter agar kelembapan pada tanah terkontrol dan sesuai dengan standar penanaman padi sehingga padi bisa tumbuh dengan maksimal. Pada hari – H Pemanenan padi, lakukan panen padi seperti pada umunya yakni potong bawah (5 hingga 10 cm diatas tanah) menggunakan sabit atau bisa menggunakan pisau. Padi yang telah dipotong, kemudian dikumpulkan dengan menggunakan alas plastik kira-kira 1 meter x 1 meter.

 

Referensi

Badan Litbang Pertanian. (2013, Agustus 12). Peluang Agribisnis Arang Sekam. Retrieved from Publikasi: http;//www.pustakalitbang.deptan/go.id/publikasi/wr254033.pdf

Hadisuwito, S. (2012). Membuat Pupuk Organik Cair. Jakarta: Agromedia Pustaka.

Harjadi, S. (1983). Pengantar Agronomi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Pertanian Pusat Penyuluhan. (2011). Budidaya Padi. Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian bekerjasama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *