Budidaya Lele dan Kangkung Melalui Sistem Akuaponik

Jumlah penduduk di Indonesia setiap tahunnya bertambah dengan sangat pesat. Tercatat hingga saat ini terdapat 268 juta jiwa penduduk. Angka tersebut mengidentifikasikan bahwa banyak kebutuhan pangan yang harus tersedia. Pertumbuhan penduduk yang sangat pesat itu, apabila tidak didukung pula dengan pertumbuhan jumlah pangan yang tersedia, akan menimbulkan sebuah bencana baru. Akan ada penduduk yang kekurangan pangan. Jumlah yang terbatas itu akan menyebabkan kelangkaan bahan pangan dan mengakibatkan harga yang tinggi. Ketahanan pangan di Indonesia selalu mengalami penurunan. Sebanyak kurang lebih 71% rumah tangga di perkotaan mengalami status ketahanan pangan dalam kategori sangat rawan. Bagi masyarakat yang berstatus sosial tinggi, itu bukan merupakan sebuah ancaman serius, tetapi jika kita berbicara tentang masyarakat kelas bawah, ini adalah suatu ancaman yang serius karena adanya perbedaan akses terhadap pangan.



Strategi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan status ketahanan pangan rumah tangga di Indonesia, khususnya pada aspek ketersediaan pangan yaitu memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri dengan cara pertanian dalam kota atau biasa kita disebut dengan Urban Farming. Urban Farming dapat mengurangi waktu dalam proses distribusi bahan makanan dan dapat mengurangi harga jual sehingga dapat meningkatkan daya beli masyarakat dengan harga yang terjangkau. Urban Farming merupakan strategi pemanfaatan lahan yang terbatas untuk menghasilkan bahan makanan yang sehat dan berkualitas karena tidak menggunakan bahan kimia. Pertanian jenis ini sebagai upaya pemenuhan ketersediaan pangan perkotaan dan memperpendek proses distribusi dan dapat meningkatkan akses ekonomi rumah tangga melalui pendapatan rumah tangga. Urban Farming terdiri dari banyak jenis, diantaranya hidroponik , akuaponik, taman dinding , greenhouse, dll.

Masyarakat kota mulai meninggalkan budidaya pertanian sistem konvensional dan mulai menekuni budidaya tanaman sistem akuaponik dikarenakan keterbatasan lahan dan air. Selain menghasilkan dua komoditas sekaligus yaitu tanaman/sayuran dan ikan, sistem ini juga mudah dilakukan. Akuaponik dapat digambarkan sebagai gabungan dari sistem budidaya ikan atau yang biasa disebut akuakultur dengan budidaya tanaman/sayuran tanpa media tanah atau yang biasa disebut hidroponik. Cara ini menggunakan sistem ekologi pada lingkungan alamiah, dimana disana terdapat hubungan simbiosis mutualisme atau saling menguntungkan antara ikan dan tanaman. Keunggulan dari sistem budidaya akuaponik adalah dapat diterapkan di tempat yang sempit, tidak perlu media tanam dan pupuk, tidak memerlukan penyiraman sehingga dapat menghemat air, dan juga memiliki nilai estetika yang tinggi. Di perkotaan dan lahan yang kering dan air merupakan sesuatu yang langka, akuaponik sangat cocok dikembangkan.
Sistem akuaponik bekerja dengan sederhana. Kotoran yang tercampur dengan air dari budidaya ikan disalurkan kepada tanaman untuk memberikan nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman. Tanaman tersebut akan menyerap nutrisi yang dihasilkan ikan tersebut. Tidak hanya keuntungan bagi tanaman, ikan juga menerima keuntungan. Sebagai gantinya, tanaman memberikan oksigen kepada ikan melalui air yang sudah tersaring oleh media tanam. Akuaponik terdiri dari dua bagian utama. Bagian tersebut adalah bagian akuatik atau air dan bagian hidroponik. Bagian akuatik sebagai pemeliharaan hewan air dan bagian hidrponik untuk menumbuhkan tanaman. Limbah yang menumpuk dalam budidaya hewan air di dalam air dapat bersifat mematikan bagi ikan. Limbah tersebut mengandung urin, feses ikan, serta sisa pakan ikan.

Penerapan sistem akuaponik yang paling sederhana dan paling sering ditemui di lingkungan masyarakat perkotaan di Indonesia adalah budidaya ikan dalam ember atau biasa disebut Budikdamber. Budikdamber dilakukan dengan cara menyebarkan air lewat atas ke setiap media tanam sehingga kandungan nutrisi yang berasal dari limbah ikan dapat tersebar ke tanaman. Bahan yang diperlukan untuk membuat sistem aliran diatas seperti ember, media tanam, saluran berjalannya air, pompa air, , ikan (lele) dan tanaman seperti kangkung. Sistem budidaya ikan dalam ember ini dibuat dengan rancangan sistem yang hemat air yang idealnya dengan menggunakan ember volume 78 liter yang diisi dengan air setinggi kurang lebih 50 cm atau sebanyak 60 liter air. Pada bagian atas ember digantungkan gelas plastik dan diisi rockwool sebagai media tanam kangkung akuaponik. Supaya tanaman kangkung dapat tumbuh dengan efektif maka gelas plastik diberi lubang-lubang kecil dibagian bawah sebagai tempat masuknya air ke media tanam kangkung. Luas lahan yang efektif yang dibutuhkan untuk satu sistem budikdamber ini adalah 0,2 m persegi yang mampu menampung kurang lebih 60 ekor ikan lele dengan kepadatan 1 ekor per liternya. Sistem ini yang menggunakan lele sebagai sumber nutrisi pada tanaman kangkung dirancang mempunyai kelebihan khusus yaitu tidak membutuhkan listrik yang biasa digunakan pada sistem sirkulasi akuaponik yang ada di masyarakat. Selain itu, wadah budidaya ikan yang digunakan sangat mudah didapatkan karena merupakan alat yang kita sering jumpai sehari-hari. Penggunaan air yang tidak berlebihan dan cenderung dapat menghemat penggunaan air juga sangat menguntungkan serta tambahan penanaman sayuran kangkung untuk memenuhi kebutuhan sayuran.

Uji kinerja budidaya ikan dalam ember (Budikdamber) dilakukan selama empat puluh hari . Uji ini dilakukan karena dapat bermanfaat untuk mengetahui apakah sistem yang dilakukan sudah benar dijalankan dan dilakukan dengan baik sebagai media tempat hidup lele dan tempat hidup kangkung akuaponik serta mengetahui apa saja yang perlu diperbaiki dan ditambahkan. Uji kinerja sistem budidaya ikan dalam ember yang perlu dilakukan adalah:
• Daya tampung ikan lele yang dapat dipelihara didalam media ember dari ukuran benih 5 sampai 7 hingga benih 11-13 cm adalah 60 ekor, Ember yang diperhatikan mampu mendukung kehidupan ikan.
• Uji kinerja sistem ini perlu mendapatkan perbaikan untuk mengadaptasi dengan kondisi cuaca yang tidak menentu. Dapat dilakukan penambahan lubang di tepi ember untuk menjaga tinggi air tidak tumpah keluar ketika hujan turun.
• Peran media kangkung akuaponik : tanaman sayuran yang di tanam pada media budikdamber adalah kangkung. Dari uji coba dapat dilihat bahwa media gelas yang diberi rockwool sudah mampu menumbuhkan dengan baik, namun dapat ditambah sayuran lain agar dapat hasil yang lebih baik.
• Pertumbuhan kangkung akan mendapat hasil yang cukup baik dengan jarak waktu panen selama 10 -16 hari dengan masa 40 hari penanaman dapat memanen kangkung hingga 3 kali. Rata-rata satu ember dapat memberikan hasil minimal 4 ikat

Budikdamber bisa sangat membantu penduduk perkotaan dalam mengatasi pertumbuhan kebutuhan pangan seiring meningkatnya pertumbuhan penduduk di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA :
Anggrayni, F. M., Andrias, D. R., & Adriani, M. (2015). Ketahanan Pangan Dan Coping Strategy Rumah Tangga Urban Farming Pertanian Dan Perikanan Kota Surabaya. Media Gizi Indonesia, 10(2), 173–178.
Nursandi, J. (2018). Budidaya Ikan Dalam Ember “Budikdamber” dengan Aquaponik di Lahan Sempit. Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Teknologi Pertanian, VII(2013), 129–136. http://jurnal.polinela.ac.id/index.php/PROSIDING
Sastro, Y. (2016). Teknologi Akuaponik Mendukung Pengembangan Urban Farming.
Susetya, I.E., Z. A. H. (2018). Aplikasi Budikdamber ( Budidaya Ikan Dalam Ember ) Untuk Keterbatasan Lahan di Kota Medan. Abdimas Talenta, 3(2), 422–426.
Wibowo, R. H., Sugianto, N., & Sembiring, S. R. (2020). Aplikasi Akuaponik Sayur Organik-Ikan Lele dalam Ember ( Asoileledamber ) di Kota Bengkulu. 5(3), 656–6.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *