Budidaya Lebah Klanceng dengan Konsep Urban Bee Sebagai Proses Agroindustri Berkelanjutan

Pertanian dan peternakan merupakan aktivitas ekonomi yang sering kita jumpai pada daerah pedesaan dengan lahan luas. Namun saat ini trend masayarakat akan praktik budidaya di daerah perkotaan dengan lahan terbatas atau urban farming sudah banyak dilirik dan dikembangkan. Tidak hanya sayuran dan buah-buahan, spesies hewan tertentu juga dapat dibudidayakan menggunakan teknik urban farming, salah satunya lebah. Jenis lebah yang mampu dibudidayakan adalah lebah tanpa sengat (trigona, klanceng, teuweul, kelulut), beberapa spesies lebah tanpa sengat seperti, H. Itama, T. Biroi, dan Laeviceps telah terbukti dapat dikembangkan di daerah perkotaan (Urban bee). Spesies lebah tanpa sengat dikenal sangat adaptif, dan mampu hidup selama lingkungannya terdapat sumber air, tanaman bergetah, tanaman bernektar, bunga berpolen, teduh (18oC-32oC) serta tidak berangin. Lebah tanpa sengat dapat menghasilkan tiga produk utama yaitu: madu, propolis, dan bee pollen. Selain memiliki produk hasil, lebah tanpa sengat juga mampu digandakan koloninya (split koloni), sehingga jumlah produktivitasnya dapat meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah koloni.

Pada umumnya lebah dibudidayakan di hutan secara alami dengan memanen sarangnya pada ruas bambu atau dalam batang pohon untuk memperoleh madu, hal tersebut akan menyebabkan sarang rusak dan menyebabkan produktivitas lebah dalam menghasilkan madu menurun. Budidaya secara urban bee dilakukan pada media stup yang merupakan kotak yang terbuat dari kayu dan diberi satu lubang keluar masuk lebah. Terdapat berbagai jenis dan ukuran stup dengan kisaran harga mulai dari Rp.20.000 – Rp. 300.000. Desain stup yang paling efektif dan efisien adalah stup dengan 3 tingkatan ruas yang dapat dilepas untuk mempermudah pemanenan madu. Ruas 3 berada dibagian paling bawah yang merupakan tempat ratu dan telur berada, dan merupakan satu-satunya ruas yang memiliki lubang sebagai pintu keluar masuknya lebah, ruas ini sebaiknya tidak diusik untuk mengantisipasi stress koloni dan terganggunya ratu. Ruas 2 berada ditengah dan berisi pot-pot madu, propolis dan bee pollen yang dihasilkan oleh lebah, ruas 2 ini lah yang akan dipanen dan diambil hasil produknya. Ruas 1 berukuran paling kecil dan terdapat dibagian teratas stup, ruas ini memiliki engsel yang dapat dibuka tutup, fungsi dari ruas ini adalah untuk mengetahui jumlah kondisi madu dan propolis hingga siap dipanen. Stup dapat digantung ataupun diletakan di halaman rumah yang teduh.

Langkah awal dalam melakukan urban bee adalah identifikasi lingkungan, apabila sudah sesuai dan memenuhi kriteria maka dapat dilakukan pembibitan. Tahapan pembibitan dimulai dengan melumuri stup baru dengan propolis mentah yang diencerkan dengan cara dipanaskan, hal tersebut bertujuan untuk membuat lebah menganggap stup tersebut adalah sarangnya. Selanjutnya, masukan 20 lebah (bibit lebah) dan tutup lubang sarang selama 1-2 minggu menggunakan propolis, hal ini bertujuan agar lebah dapat beradaptasi dengan sarangnya dan membentuk koloni dengan menjadikan salah satu dari mereka sebagai ratu. Setelah proses adaptasi, lubang pada sarang dibuka kembali dan disisakan sedikit propolis  sebagai penanda bagi lebah. Lebah akan memperbesar koloni dengan cara berkembang biak dan menarik lebah tanpa sengat lain disekitarnya, semakin besar koloni maka semakin banyak jumlah produk yang akan dihasilkan. Setelah pembibitan selesai, stup hanya perlu dikontrol produksinya dan dijaga dari hama semut, cicak dan burung. Dalam setahun biasanya satu stup akan penuh dan dipanen sebanyak 3 kali, dengan hasil panen sebanyak 500 gr madu, 400 gr propolis dan 150 gr bee pollen sekali panen.

Stup akan siap dipanen apabila pada ruas 1 sudah penuh terisi oleh pot madu hingga menutup bagian tengah. Proses pemanenan dilakukan dengan membongkar seluruh ruas stup, selanjutnya ruas 2 dipisahkan dan, ruas 3 ditutup oleh ruas 1. Ruas 2 berisi madu, propolis, dan bee pollen, untuk mengambilnya diperlukan pisau kikir dan wadah penampung, potong bagian pot madu dan propolis yang menempel pada dinding selanjutnya dorong hingga keluar. Proses selanjutnya adalah pemisahan madu, propolis dan bee pollen, pemisahan madu dilakukan dengan cara pemerasan menggunakan kain kasa. Madu yang diperoleh merupakan madu murni dan sudah dapat dikonsumsi. Ampas perasaan pot madu adalah propolis. Propolis yang mengandung bee pollen dengan ciri-ciri terdapat butiran berwarna kuning harus dipisahkan. Proses pengolahan propolis dilakukan dengan cara dijemur selama 2-3 hari, setelah itu propolis dipanaskan (50-60oC) dengan wajan agar sedikit meleleh untuk selanjutnya dicetak dalam wadah dan dipadatkan hingga terbentuk propolis balok. Propolis balok inilah yang akan digunakan sebagai bahan baku untuk membuat propolis cair. Propolis yang mengandung bee pollen diolah dengan cara dihamparkan pada wadah dan didinginkan pada kulkas selama 7 hari, selanjutnya propolis diayak dengan saringan 60 mesh untuk memperoleh serbuk bee pollen. Dalam proses pemanenan sering ditemukan telur pada ruas 2, telur tersebut dapat dipindahkan kedalam stup baru yang telah dilumuri propolis dan digunakan sebagai bibit untuk koloni baru dan masuk ke tahapan proses pembibitan, hal ini disebut dengan metode split koloni. Setelah proses pemanenan, ruas 2 dikembalikan ke posisi semula dan stup dibiarkan produktif kembali.

Pelaksanaan urban bee cukup mudah, efisien dan berkelanjutan. Dalam prosesnya tidak banyak menyita waktu dan tenaga karena penanganan hanya dilakukan pada saat pembibitan dan pemanenan saja. Urban bee juga dinilai efisien dan tidak memerlukan banyak tempat sehingga dapat dilakukan di halaman rumah, rooftop dan kebun dengan catatan faktor lingkungannya sesuai. Konsep urban bee sangat cocok dikombinasikan dengan urban farming lainnya seperti vertikal farming, hidroponik, dsb untuk meningkatkan produktivitas. Kombinasi tersebut akan menghasilkan hubungan yang sinergis antara lebah yang mengumpulkan nektar dan resin sekaligus membantu penyuburan tanaman dengan cara penyerbukan. Pelaksanaan urban bee sangat menguntungkan melihat dari produk yang dihasilkan berupa produk alami, produk tersebut dapat dikonsumsi sendiri atau dijual, mengingat permintaan pasar akan produk herbal saat ini meningkat dengan harga yang fantastis yaitu: madu klanceng Rp. 500.000-800.000/kg, Propolis balok mentah Rp. 200.000-300.000/ kg dan Bee pollen Rp. 200.000/kg. Selain itu terdapat juga koloni lebah yang bertambah banyak, yang mana hal tersebut dapat meningkatkan produktivitas.

Pelaksanaan urban bee sangat mungkin dilakukan di wilayah perumahan dengan menerapkan prinsip 1 rumah 1 stup, pembibitan dan pemanenan mulanya dapat dilakukan oleh beberapa orang untuk kemudian diekspansi secara menyeluruh dan terciptalah kawasan tinggal dengan konsep green-city. Pemberdayaan anak muda juga dapat dilakukan dengan menciptakan guna meningkatkan produktifitas, hubungan sosial dan pengasrian lingkungan. Kedepannya produk hasil dapat dikonsumsi oleh masyarakat setempat dan sebagiannya dijual kepada mitra pengolahan untuk ditukar produk jadi atupun pemasukan kas.

 

Gambar :

Referensi :

Mahani, R.A. Karim, N. Nurjanah . Keajaiban Propolis Trigona. Pustaka Bunda, Jakarta. 2011.

Sihombing, D.T.H.2005. Ilmu Ternak Lebah Madu. Gadjah Mada University Press.

Pratiwi, N., Abdullah, B., & Dirgantoro, M. (2020). Analisis Produktivitas, Keuntungan, dan Efisiensi Biaya Usaha
Budidaya Lebah Madu Trigona sp. di Kecamatan Landono Kabupaten Konawe Selatan. Jurnal Ilmiah
Membangun Desa dan Pertanian, 5(3), 111 – 116.

https://www.unpad.ac.id/profil/dr-mahani-m-si-ciptakan-teknik-rapid-split-untuk-percepat-penambahan-koloni-lebah-trigona/

http://m.sinarpaginews.com/profil/17439/dr-mahani-stup-lebah-trigona-mesin-uang-sahabat-lingkungan-green-money-machine.html

https://www.lebahtanpasengat.com/2018/12/

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *