Budidaya Cabai Rawit (Capsicum Frutescens L) Hidroponik

Urban Farming (Pertanian Perkotaan) dewasa ini merupakan praktik budidaya, pemrosesan, dan distribusi bahan pangan yang ada di sekitar perkotaan. Kegiatan dari Urban Farming itu sendiri melibatkan budidaya peternakan, budidaya perairan, holtikultura, dan watani. Kegiatan pertanian perkotaan ini sudah sering kita temukan di perkotaan, apalagi banyak orang yang melakukan kegiatan ini menjadi sebuah ladang usaha. Status keberlanjutan pengembangan pertanian perkotaan ini bersifat multi-dimensional, yaitu : ekologi, ekonomi, sosial, kelembagaan, dan juga teknologi dengan metode MDS (Multi-Dimentional Scaling)Indonesia juga sudah mendapatkan peringatan dari Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), yaitu “Ketika negara-negara memerangi pandemic corona, mereka juga harus melakukan segala upaya untuk menjaga kelancaran rantai pasokan makanan mereka”. Rantai makanan ini melibatkan interaksi yang lumayan kompleks, seperti petani, benih, pupuk, anti-hama, pabrik pengolahan, dan lainnya dari sector pertanian.

Populasi urban yang terus meningkat juga menjadi salah satu factor terbesar yang menyebabkan masyarakat perkotaan memilih untuk melakukan Urban Farming. Menurut data yang disediakan oleh UN World Urbanization Prospects 2018, populasi masyarakat yang ada di perkotaan sebesar 50% dan pada tahun 2020 menjadi 55%. Diperkirakan pada tahun 2050 nanti, populasi masyarakat urban di Indonesia mencapai angka sebesar 330 juta penduduk atau 67% berada di perkotaan. Angka yang semakin besar tersebut menjadikan masyarakat perkotaan harus memutar otak agar bagaimana caranya pertanian perkotaan tetap berjalan sesuai kebutuhan masyarakat kota. Pertanian perkotaan berkaitan dengan ketahanan pangan yang meliputi empat dimensi yang harus diwujudkan, antara lain adalah ketersediaan pangan, akses ekonomi dan fisik terhadap pangan, pemanfaatan pangan, dan stabilitas ketiga dimensi tersebut. Peran strategis Urban Farming adalah meningkatkan jumlah makanan yang tersedia untuk masyarakat yang hidup di perkotaan dan memungkinkan sayuran, buah-buahan, dan produk lainnya aman, sehat, dan segar untuk konsumen masyarakat perkotaan.

Salah satu bentuk Urban Farming yang sudah dilakukan di Indonesia bahkan di seluruh dunia adalah hidroponik. Istilah hidroponik pertamakali dikemukakan oleh W.F. Gericke dari University of California pada awal tahun 1930-an, Ia melakukan percobaan hara pada tanaman dalam skala komersial yang selanjutnya disebut dengan nutrikultur atau hydroponics. Kemudian, hidroponik ini sendiri diartikan secara ilmiah sebagai sebuah cara budidaya tanaman tanpa menggunakan media tanah, tetapi menggunakan media inert, seperti gravel, pasir, peat, vermikulit, pumice atau sawdust. Bentuk budidaya hidroponik ini mempunya banyak keuntungan yang bisa didapat dibandingkan dengan budidaya cocok tanam yang konvensional, yaitu pertumbuhan tanaman bisa dikontrol secara berkala, tanaman dapat berproduksi dengan kualitas dan kuantitas yang tinggi, tanaman jarang terserang hama penyakit karena terlindungi dengan baik, pemberian air secara irigasi dan larutan unsur hara lebih efektif dan efisien, dapat diusahakan terus menerus tanpa harus bergantung oleh musim yang tidak menentu, dan juga dapat diterapkan pada lahan yang sempit.

Salah satu cara hidroponik yang paling sering ditemukan adalah dengan penggunaan pipa irigasi dan juga kantong plastic (polybag) yang diisi dengan media tanam. Berbagai media tanam yang biasanya digunakan adalah tanah, serbuk gergaji, kulit kayu, vermikulit, perlit, dan arang sekm. Irigasi tetes biasanya digunakan pada sistem ini. Sistem Bag Culture ini sangat disarankan bagi para pemula dalam mempelajari teknik hidroponik, sebab sistem ini tidak memiliki resiko yang tinggi dalam budidaya tanaman. Tanaman yang sering ditemukan di mana pun, salah satunya di perkotaan adalah tanaman cabai rawit (Capsicum Frutescens L). Hasil tanaman cabai yang baik, tentu berasal dari benih dan pengelolaan yang baik. Benih itu sendiri merupakan faktor utama yang dapat mempengaruhi hasilnya nanti. Cara paling mudah untuk mendapatkan benih cabai rawit adalah dengan mengambil cabai rawit dan mengeringkannya dengan cara diangin-anginkan. Setelah cabai rawit tersebut kering, barulan diambil bijinya dan dimasukkan di dalam air, ambil biji yang tenggelam untuk dijadikan benih. Perendaman tersebut bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan kecambahnya. Benih cabai sebaiknya direndam di dalam air yang telah diberikan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) yang berguna untuk mempercepat pertumbuhan cabai. Setelah perendaman selesai dilakukan, bungkus benih cabai menggunakan  kain basah atau tisu selama satu hari penuh, karena hal ini dimaksudkan agar proses berkecambahnya benih cabai dapat berlangsung dengan cepat, setelah kecambah muncul, kemudian kita bisa melakukan penyemaian. Penyemaian cabai rawit untuk ditanam dengan metode hidroponik dan menggunakan media tanah. Tempat untuk dijadikan persemaian biasanya berupa wadah yang telah diberi sekam bakar atau sabut kelapa. Posisikan benih cabai tenggelam dan tertutupi oleh sekam bakar atau sabut kelapa. Kemudian siram dengan air, tetapi jangan sampai benih cabai menggenang. Letakkan persemaian benih cabai rawit di tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung.

Proses selanjutnya setelah selesai penyemaian adalah transplanting, yaitu pemindahan benih tanaman cabai rawit dari persemaian menuju media tanam yang digunakan untuk pertumbuhan tanaman. Dalam cara menanam cabai rawit dengan hidroponik, kita harus menunggu daun semu hingga menjadi daun sejati. Biasanya proses ini belangsung ketika cabai rawit berumur 21-24 hari atau ketika cabai rawit mempunyai daun sebanyak 4-5 helai barulah tanaman bisa dipindahkan ke media tanam hidroponik. Hal ini bertujuan agar akar pada tanaman budidaya cabai rawit hidroponik sudah cukup kuat dan tanaman cabai tidak mudah layu. Letakkan bibit tanaman cabai yang baru mulai tumbuh di tempat yang teduh tanpa harus terkena paparan sinar matahari secara langsung. Biarkan tanaman cabai rawit selama kurang lebih 5-7 hari, baru setelah itu tanaman bisa perlahan ditempatkan di tempat yang terkena cahaya matahari langsung. Proses ini harus dilakukan secara perlahan dan bertahap agar tumbuh kembang cabai rawit hidroponik dapat tumbuh secara optimal. Jika bibit cabai rawit sudah diap dipindah untuk ditanam, maka persiapkan median tanaman untuk pertumbuhan cabai rawit. Siapkan polybag sebagai wadah untuk menempatkan bibit cabai, pastikan ketika meletakkan bibit cabai, polybag sudah terisi dengan media yang telah ditentukan. Biasanya tanaman cabai hidroponik ini bisa menggunakan wick system, deep water culture, polybag atau pot system yang penyiramannya dilakukan setiap hari.

Cara yang paling efektif agar bagaimana budidaya hidroponik ini tetap bisa dilakukan bahkan ketika pertambahan penduduk perkotaan semakin pesat adalah dengan mensosialisasikan budidaya hidroponik ini melalui platform media social yang banyak tersedia, mulai dari keuntungan yang bisa didapat ketika kita menerapkan Urban Farming, metode hidroponik apa saja yang bisa dilakukan di lahan yang sempit, sampai cara penanaman yang paling efektif yang bisa dilakukan. Karena tujuan dari penerapan Urban Farming ini bukan hanya menjadi sekedar tren semata, tetapi menjadi salah satu hal yang bisa menjadi alternatif pertanian di perkotaan. Bahwa masyarakat perkotaan pun bisa melakukan Urban Farming lewat berbagai macam metode agar keberlanjutan pangan dan urgensi pemenuhan pahan pangan di perkotaan tetap berlangsung.

Referensi :

https://dasarhortikultura.files.wordpress.com/2013/03/modul-5-sistem-hidroponik.pdf

https://www.indonesiana.id/read/127333/mudahnya-budidaya-cabai-secara-hidroponik

https://www.greensgrow.org/urban-farm/what-is-urban-farming/

https://www.researchgate.net/publication/287948959_PENGEMBANGAN_SENTRA_PERTANIAN_PERKOTAAN_URBAN_FARMING_MENGGUNAKAN_STRUKTUR_AIR_INFLATED_GREENHOUSE

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *