Bayam Merah untuk Kesehatan Ibu Hamil

Dalam keadaan pandemi Covid-19 ini memaksa kita untuk tinggal di rumah. Sebagian dari kita bersekolah, kuliah, hingga bekerja melalui online yang sering kali membuat jenuh. Banyak yang merasa tidak produktif karena segala pergerakan dan kegiatan menjadi terhambat diakibatkan PSBB ini. Namun, kita harus melakukannya karena ini sudah menjadi keputusan pemerintah yang mengharuskan masyarakat Indonesia untuk berdiam diri di rumah sebagai langkah memutuskan rantai penyebaran Covid-19.

Bermain sosial media seperti Instagram, dan game online merupakan kegiatan dari kebanyakan orang untuk menghabiskan waktu di saat pandemi ini. Namun, kegiatan tersebut tidak terlalu memberikan manfaat dan hanya mengusir kejenuhan untuk sementara waktu. Sebaiknya dalam masa ini kita bisa lebih mengembangkan soft skill atau kegiatan yang bermanfaat bagi diri sendiri ataupun orang lain. Salah satu contohnya yaitu bercocok tanam menggunakan metode hidroponik. Metode ini sangat cocok untuk dilakukan di perkotaan yang rata-rata area pekarangan rumahnya sempit. Selain dapat mengisi waktu dan memberikan efek hijau menyegarkan di rumah, kita juga bisa memetik hasilnya untuk konsumsi sehari-hari.

Hidroponik sendiri merupakan cara bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai media tanamnya. Walaupun tanah adalah sumber utama bagi tumbuhan untuk hidup, namun hal ini bisa diganti dengan menggunakan air. Beberapa penelitian telah menguji coba air sebagai media tanam dan ternyata berhasil. Untuk membuatnya hanya memerlukan beberapa bahan saja seperti botol plastik, gelas plastik, jerigen, dan bahan lainnya. Jenis tanaman sayur yang bisa ditanam juga beragam, seperti kangkung, sawi, seledri, pokcoy, bayam, dan berbagai jenis tanaman lainnya. Kali ini kita akan membahas salah satu tanaman sayur yang kaya akan manfaat, tetapi kurang diketahui orang banyak.

Bayam merupakan salah satu jenis sayur yang menjadi favorit di semua usia. Terdapat dua jenis bayam yang paling sering dikonsumsi oleh masyarakat yaitu bayam hijau dan bayam merah. Kalau dilihat dari namanya sudah tergambar perbedaan mendasar dari fisiknya, bayam hijau memiliki daun berwarna hijau tua sedangkan bayam merah memiliki warna merah keunguan pada daunnya. Sayangnya popularitas bayam merah kalah bila dibandingkan dengan bayam hijau.

Tumbuhan yang memiliki nama ilmiah amaranthus tricolor atau bayam merah ini memiliki berbagai manfaat kesehatan bagi tubuh. Kandungan nutrisi yang terdapat pada bayam ini sangat baik bagi tubuh. Karbohidrat kompleks, serat, vitamin c, mineral seperti zat besi, kalsium, kalium, asam folat, dan magnesium merupakan kandungan yang terdapat di dalamnya. Jangan lupakan kandungan antioksidan di tumbuhan ini yang berfungsi sebagai senjata melawan radikal bebas yang dapat ditemukan sehari-hari, seperti asap rokok, asap kendaraan, dan makanan yang terpapar pestisida.

Selain sebagai sumber nutrisi dan senjata melawan radikal bebas, bayam merah juga memiliki manfaat lain. Pertama, membantu kesehatan pembuluh darah dengan memperlancar aliran darah. Kedua, bisa untuk melawan penyakit kanker dengan kandungan antioksidan yang tinggi akan menghambat pertumbuhan sel kanker. Ketiga, membantu mengontrol kadar kolesterol dan gula darah.

Manfaat bayam merah tidak berhenti disitu saja, khususnya untuk ibu hamil. Selama masa kehamilan akan banyak faktor risiko yang menyebabkan komplikasi pada ibu hamil salah satunya yaitu anemia. Ketika seorang wanita hamil, tubuhnya secara alamiah membentuk sel darah merah lebih banyak dari biasanya untuk memberikan oksigen serta nutrisi pada janin. Untuk memproduksi sel darah merah dan hemoglobin membutuhkan berbagai komponen zat di dalamnya seperti, zat besi, asam folat, dan vitamin B12. Ketika bahan-bahan tersebut tidak tercukupi alhasil dapat terjadi anemia (kekurangan sel darah merah). Anemia sendiri memang menjadi momok permasalahan kesehatan global karena telah mempengaruhi sebagian besar dari semua wanita hamil di seluruh dunia. Dampak buruknya dari anemia yaitu memperlambat waktu persalinan dan mengakibatkan pendarahan serta syok karena kontraksi. Dampak lebih parah pada janin yaitu makin besarnya kemungkinan terinfeksi, bayi prematur, dan kecacatan bahkan kematian dari bayi. Gejala paling umum yang dapat ditemui pada ibu hamil yaitu mudah lelah, sesak napas, pusing, detak jantung tidak teratur, tangan dan kaki dingin, kulit, bibir, dan kuku kering dan pecah, dan sulit untuk konsentrasi.

Namun, anemia pada ibu hamil dapat dicegah dengan menambah suplemen khusus ibu hamil selama kehamilan. Cara lainnya juga dengan banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung berbagai vitamin juga zat besi yang tinggi, sebagai contoh dari yang dibahas di awal yaitu bayam merah.

Dengan berbagai manfaat yang dimiliki, kita bisa mengkonsumsi sekaligus membudidayakan bayam merah karena prosesnya yang cukup mudah mulai dari penyiapan peralatan, penyemaian, pemeliharaan, panen, dan paska-panen. Berikut ini cara untuk menanam bayam merah menggunakan metode hidroponik.

Pertama, tentunya kita harus menyediakan sedikit lahan untuk memulai metode ini. Tidak perlu yang terlalu besar, yang penting cukup untuk menaruh beberapa bibit di dalamnya dan cukup terkena sinar matahari. Kedua, siapkan alat dan bahan, seperti, benih bayam merah, rockwool, gergaji besi, tusuk sate, semprotan, nampan, dan sistem rakit apung sederhana. Ketiga, siapkan media tanam dengan memotong rockwool setebal 2,5 cm. Iris memanjang sedalam kurang lebih 1 cm menjadi tiga bagian dan iris melintang menjadi enam bagian sedalam 1 cm. Keempat, lubangi kotak rockwool dengan tusuk sate, lalu letakkan benih di lubang tersebut. Setelah lubang terisi dengan benih, selanjutnya basahi atau semprot rockwool menggunakan semprotan sampai keadaan lembab, berikutnya taruh semaian di tempat yang cukup terkena sinar matahari. Kelima, setelah berumur dua hari biji benih akan pecah dan terbentuklah tunas-tunas kecil, lalu pastikan rockwool tetap lembab agar tunas tersebut tumbuh dengan maksimal. Keenam, setelah benih atau tunas tersebut sudah berumur sepuluh hari atau sudah memiliki daun tiga sampai empat lembar. Pisahkan kotak rockwool berdasarkan irisan yang dibuat pada Langkah ketiga. Lalu letakkan potongan rockwool ke dalam netpot yang sudah diberikan flannel sebagai sumbu di bawahnya. Ketujuh, letakkan pot ke sistem hidroponik menggunakan rakit apung sederhana, jangan lupa atur pekatan nutrisi yang dibutuhkan oleh benih tersebut. Kedelapan, letakkan sistem hidroponik tersebut ke tempat yang sudah disediakan saat awal. Jangan lupa untuk selal lakukan pengecekan terhadap tanaman, baik di daun, batang, ataupun pada akar untuk mengantisipasi gejala yang kurang baik. Terakhir, tunggulah sampai masa panen sekitar 30-40 hari, lalu dapat langsung dicabut atau dipotong dari batangnya dan biarkan untuk tumbuh lagi.

 

Daftar Pustaka

Siti Lathifah, Neneng., dan Susilawati. (2019). Konsumsi Jus Bayam Merah Campur Madu terhadap Peningkatan Kadar Hemoglobin pada Ibu Hamil Trimester III. Jurnal Kesehatan, 10(3), 2548-5695.

Republika.co.id. (2020). In Picture: Urban Farming Hidroponik, Alternatif Sumber Pangan Mandiri. Diakses pada 10 November 2020 dari https://republika.co.id/berita/qbe8du314/urban-farming-hidroponik-alternatif-sumber-pangan-mandiri

M Wardani, Dewasasri. (2018). Bayam Merah, Kaya Antioksidan. Diakses pada 10 November 2020 dari http://www.satuharapan.com/read-detail/read/bayam-merah-kaya-antioksidan

World Health Organization. (2020). Coronavirus disease 2019 (COVID-19): situation report, 72.

WN, Bayu. (2016). Cara Menanam Bayam Merah Hidroponik. Diakses pada 11 November 2020 dari http://hidroponikpedia.com/step-by-step-cara-menanam-bayam-merah-hidroponik/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *