Bawang Dayak sebagai Bahan Utama Teh Kaya Antioksidan

Pada masa sekarang, banyak orang yang mulai menerapkan pola hidup sehat. Di samping itu, masih banyak juga orang yang belum terlalu peduli pada pola hidupnya, salah satunya terhadap makanan yang dikonsumsi. Mulai dari sering mengkonsumsi makanan cepat saji, makanan berminyak yang berlebih, minuman bersoda, sampai minimnya asupan sayur dan buah. Di masa pandemi ini, banyak inovasi terkait makanan dan minuman bermunculan, yang tidak jarang lebih mengutamakan tampilan dibanding kandungan nutrisinya. Dampaknya tidak akan langsung terasa, namun dapat mengakibatkan risiko berbagai penyakit di masa yang akan datang.

Untuk meminimalisirnya, mengkonsumsi tanaman herbal dapat menjadi salah satu cara yang efektif. Masih banyak yang beranggapan bahwa mengkonsumsi tanaman dan obat herbal lebih mudah karena bisa diolah sendiri dan disampaikan secara turun-temurun. Dengan bahan yang alami, tanaman herbal jauh dari bahan kimia. Dari tujuh umbi yang memiliki manfaat besar, bawang dayak adalah salah satunya. Dalam bawang dayak terkandung antioksidan dan antibakteri dengan kadar yang tinggi sehingga dapat menghentikan pertumbuhan bakteri dan penyebaran penyakit. Juga dapat mencegah adanya kanker dan radang.

Bawang dayak yang hampir mirip dengan bawang merah memiliki banyak sebutan dari beberapa daerah, seperti bawang tiwai, bawang sabrang, bawang hantu, dan bawang hutan. Bawang ini memiliki ciri fisik dengan permukaan yang mengilap dan warna merah terang. Bawang dayak memiliki bunga dan daun yang cantik sehingga dapat dijadikan juga tanaman hias. Bagian daunnya dapat dimanfaatkan sebagai pelancar air susu ibu. Selain dijadikan rempah, bawang ini sering dijadikan sebagai obat herbal yang memiliki banyak khasiat untuk kesehatan. Bawang ini mengandung kadar antioksidan yang dapat menangkap radikal bebas. Radikal bebas dapat dihasilkan dari banyak hal, diantaranya rokok, asap kendaraan, radiasi sinar ultra violet, pestisida, bahkan dari proses pengolahan makanan yang berlebihan. Menggoreng dengan minyak yang dipakai berulang kali dan suhu yang terlalu tinggi, kemudian pengolahan makanan dengan membakar juga dapat menghasilkan radikal bebas. Antioksidan yang terkandung di dalam bawang dayak dapat mengurangi risiko stroke, kanker, hipertensi, diabetes, dan masih banyak lagi. Kandungan zat kimia pada bawang dayak diantaranya: flavonoid, alkaloid, glikosida, tannin, dan sapponin. Flavonoid dapat memicu pertumbuhan produksi insulin. Insulin dapat mengendalikan kadar gula darah pada tubuh.

Bawang dayak atau bawang tiwai merupakan tanaman khas Kalimantan Tengah yang berasal dari Amerika Selatan. Di Indonesia, bawang dayak banyak dibudidayakan di Kalimantan dan Jawa Barat. Karena termasuk tanaman liar, bawang dayak lebih baik ditanam pada lahan terbuka juga tidak memakai pestisida. Untuk penanamannya, menggunakan umbi dari bawang dayak. Dengan cara membuat lubang kurang lebih sedalam 3 cm dan memasukkan umbi ke dalamnya. Ketika masa pertumbuhan sudah sekitar 3-6 bulan, bunga mulai muncul dan bawang dayak siap dipanen. Tinggi nya bisa mencapai 20 cm. Selain di lahan terbuka, dengan memanfaatkan lahan yang cukup terbatas, pembudidayaan bawang dayak bisa dilakukan dengan sistem hidroponik. Dengan menggunakan media tanam sekam bakar, diberikan larutan nutrisi dan pupuk organik, cukup satu kali penyiraman dalam sehari, bawang dayak dapat tumbuh dengan baik. Kelebihan dari bawang dayak adalah tanaman yang tidak rentan terhadap hama, bisa ditanam pada dataran rendah dan dataran tinggi, juga dapat tumbuh di berbagai jenis tanah.

Pemanfaatan bawang dayak sangat beragam, seperti dijadikan manisan dan teh. Minuman berasa dan berwarna sudah sejak lama sangat diminati oleh berbagai kalangan. Sekarangpun banyak yang memodifikasi dan menciptakan minuman sedemikian rupa agar banyak orang yang tertarik, misalnya kopi dan teh. Kedua jenis minuman ini terus mengalami perkembangan yang baik. Disamping kopi yang terus dikembangkan melalui bahan pilihan dan hasil olahan yang beragam, jenis minuman teh pun terus diuji dan dikembangkan untuk menghasilkan rasa dan khasiat yang baik. Berbagai macam tanaman dikeringkan dan dijadikan teh. Mulai, dari bagian daunnya, batangnya, bunganya, hingga umbinya. Teh sendiri adalah minuman yang paling banyak dikonsumsi manusia setelah air putih. Teh memiliki antioksidan yang terbilang tinggi.

Untuk tanaman bawang dayak, jika dikonsumsi langsung untuk sebagian orang kurang diminati. Rasa pahit dan aromanya yang menyengat dapat membuat kalangan muda khususnya, enggan untuk mengkonsumsi. Namun berbeda jika sudah diolah menjadi teh yang biasa dinikmati. Selain aroma yang enak, khasiatnya pun dapat terasa. Dapat menurunkan risiko munculnya batu ginjal sebanyak 8% jika mengkonsumsi teh sebanyak 240 ml per hari. Juga dapat menjaga kesehatan gigi yaitu mencegah adanya karies pada gigi.

Berikut adalah cara pengolahan bawang dayak untuk dijadikan teh:

  1. Menyiapkan tanaman bawang dayak yang sudah siap dipanen.
  2. Untuk kebutuhan 1 gelas teh, cukup menggunakan 3 siung bawang dayak. Bersihkan tanah atau kotoran yang menempel pada akar, dan potong bagian daun dan akarnya.
  3. Cuci bersih umbi menggunakan air mengalir.
  4. Potong tipis umbi bawang dayak.
  5. Rebus umbi yang sudah dipotong dengan air sebanyak 2 gelas.
  6. Saring ampas umbi bawang dayak.
  7. Dan ambil air hasil rebusan, tuangkan ke dalam gelas sesuai takaran.

Selain direbus, teh bawang dayak dapat diolah dengan dikeringkan, untuk tahapannya:

  1. Menyiapkan tanaman bawang dayak yang sudah siap dipanen.
  2. Bersihkan tanah atau kotoran yang menempel pada akar, dan potong bagian daun dan akarnya.
  3. Cuci bersih umbi menggunakan air mengalir.
  4. Potong tipis umbi bawang dayak.
  5. Tiriskan umbi dalam wadah yang datar.
  6. Sebelum meletakkan umbi, berikan alas terlebih dahulu pada wadah seperti kertas ataupun koran.
  7. Angin-anginkan bawang dayak kurang lebih selama 3-5 hari dalam ruangan.
  8. Setelah kering, tumbuk bawang dayak sehingga berbentuk serbuk.
  9. Kemas bawang dayak agar praktis dan mudah untuk diseduh.
  10. Dengan umur simpan yang lebih lama, teh bawang dayak dapat diseduh dan dikonsumsi.

Potensi bawang dayak sebagai tanaman jenis umbi sangat besar. Didalamnya mengandung banyak  khasiat yang dapat dikembangkan dan dimanfaatkan untuk menunjang penerapan pola hidup sehat. Cukup mudah untuk pembudidayaan tanaman bawang dayak. Karena termasuk tanaman liar, tidak dirawatpun bawang dayak akan tumbuh. Namun untuk hasil yang optimal, pembudidayaan yang baik akan menghasilkan kualitas yang baik pula. Dengan menanam bawang dayak di pekarangan rumah, teh bawang dayak dapat dibuat sendiri dan dapat dirasakan khasiatnya. Bawang dayak memiliki antibakteri dan antioksidan tinggi, antidiabetes, antijamur, hingga antiinflamasi di dalamnya.

 

Daftar Pustaka

Aslamiah, Suaibatul. (2016). Ujicoba Hidroponik Tanaman Kencur Dan Bawang Dayak. Palangkaraya: Universitas Muhammadiyah Palangkaraya. 3(1), 46-53. Diambil dari http://journal.umpalangkaraya.ac.id/index.php/daun/article/download/166/164/

Yustina., Yenti, Silvia Reni., Taufik, Hendra., Syapsan., & Nita. (2019). Usaha home indusry teh BADAK (Bawang Dayak) Eleutherine americana Merr pada komunitas BIJAK (Bunda Inovatif Jayapura Aktif Kreatif) di Kampung Jayapura, Kecamatan Bungaraya, Kabupaten Siak. 1, 411-419. Diambil dari https://conference.unri.ac.id/index.php/unricsce/article/download/91/103

Besral., Meilianingsih, Lia., & Sahar, Junaiti. (2007). Pengaruh Minum Teh Terhadap Kejadian Anemia Pada Usila di Kota Bandung. Depok: Universitas Indonesia. 11(1), 38-43. Diambil dari http://journal.ui.ac.id/index.php/health/article/download/233/229

Hidayah, Anita Sarah., Mulkiya, Kiki., & Purwanti, Leni. (2015). Uji Aktivitas Antioksidan Umbi Bawang Dayak (Eleutherinebulbosa Merr.). Bandung: Universitas Islam Bandung. 397-403. Diambil dari http://karyailmiah.unisba.ac.id/index.php/farmasi/article/download/1956/pdf

Khaira, Kuntum. (2010). Menangkal Radikal Bebas dengan Antioksidan. Padang. 2(2), 183-187. Diambil dari https://media.neliti.com/media/publications/129475-ID-menangkal-radikal-bebas-dengan-anti-oksi.pdf

Naspiah, Nisa., Iskandar, Yoppi., & M. W., Moelyono. (2014). Artikel Ulasan: Bawang Tiwai (Eleutherine Americana Merr.), Tanaman Multiguna. Sumedang: Universitas Padjadjaran. 4(2), 18-30. Diambil dari http://jurnal.unpad.ac.id/ijas/article/view/16820

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *