Tanaman Stevia (Stevia Rebaudiana B.)

Gambar 1. Tanaman Stevia (stevia rebaudiana B.) (Sumber: https://www.99.co/blog/indonesia/manfaat-daun-stevia/, 2020)

Tanaman Stevia (Stevia  rebaudiana B.) merupakan tanaman golongan herba. Tanaman ini memiliki nilai komersial yang tinggi dikarenakan mengandung pemanis alami yang dapat digunakan sebagai pengganti tebu dan juga lebih manis dari tebu. Rasa manisnya karena stevia mengandung senyawa steviol glikosida. Dua glikosida steviol tertinggi ditemukan pada daun stevia, steviol glikosida (4-13%) dan rebaudioside-A (2-4%). Manisnya steviol glikosida 70-400 kali lebih tinggi dibandingkan sukrosa (Adabiyah dkk., 2019).

Stevia Rebaudiana B. diklasifikasikan pertama kali oleh Moises Santiago Bertoni pada tahun 1899. Tanaman tersebut awalnya bernama Eupatorium rebaudianum dan berganti nama menjadi Stevia Rebaudiana pada tahun 1905 (Lemus-mondaca et al., 2012). Menurut Yadav et al. (2011), klasifikasi posisi tanaman stevia adalah sebagai berikut:

Kingdom         : Plantae, Subkingdom    : Tracheobionta,  Superdivision  : Spermatophyta,  Divisi: Magnoliophyta,  Kelas               : Magnoliopsida, Subkelas          : Asteridae, Kelompok       : Monochlamydae, Famili: Asteraceae, Subfamili         : Asteroideae, Genus              : Stevia,  Spesies : Rebaudiana Bertoni

Tanaman stevia memiliki sistem perakaran berserat (Serabut). akar serabut tanaman stevia dibagi menjadi dua jenis bagian yaitu akar halus dan akar tebal. Akar halus tumbuh di bawah permukaan tanah, dan akar yang kasar tebal menembus tanah. Panjang akar stevia sangat bergantung dengan ketersediaan kebutuhan air. semakin sedikit air maka akan semakin panjang akaranya untuk mencari ketersediaan air.  Tanaman ini memiliki kemampuan regenerasi yang kuat sehingga tahan terhadap pemangkasan (Lemus-Mondaca et al., 2012).

Read More …

Pengelolaan Limbah Pertanian dan Peternakan

Tingginya angka kelahiran dan pertambahan penduduk akan berdampak pada peningkatan jumlah sampah di Indonesia. Sampah yang dihasilkan bervariasi, dan sampah perkotaan akan berbeda dengan sampah pedesaan. Sampah kota termasuk sampah organik, anorganik dan berbahaya. Sedangkan sampah pedesaan biasanya hanya berupa sampah organik, seperti sampah rumah tangga, ternak dan sampah pertanian. Pengolahan sampah di Indonesia masih banyak menggunakan cara-cara yang sederhana, bahkan banyak orang yang beranggapan bahwa pengolahan sampah hanya dengan program 3P (Pengumpulan, Pengangkutan dan Pembuangan) tetapi cara ini belum bisa digunakan untuk limbah peternakan dan pertanian. Biasanya limbah ternak dan pertanian dibiarkan begitu saja, limbah ini akan menjadi masalah yang serius, baik dari segi estetika maupun kesehatan. Limbah ternak yang sering dimanfaatkan adalah kotoran sapi.. Salah satu proses yang banyak dimanfaatkan untuk limbah ternak dan pertanian adalah dengan membuat kompos atau pupuk organik dengan cara pengomposan. Kompos yang terbuat dari limbah pertanian dan peternakan mengandung kandungan nitrogen, kalium dan serat yang tinggi. Karya ilmiah ini dibuat dengan tujuan mengkaji pengolahan limbah pertanian dan peternakan menggunakan metode pengomposan sehingga menjadi produk yang bernilai dan dapat digunakan kembali.

Read More …