Budidaya Tomat Cherry dengan Metode Hidroponik

Urban farming merupakan suatu konsep pertanian atau perkebunan yang pelaksanaannya memanfaatkan lahan yang terbatas. Urban farming atau pertanian perkotaan disebut juga sebagai kegiatan membudidayakan tanaman atau memelihara hewan ternak di wilayah kota besar (metropolitan) maupun kota kecil untuk memperoleh bahan pangan dan kebutuhan lain seperti menjadi sumber pendapatan. Di dalam kegiatan urban farming terdapat juga pemprosesan hasil panen, pemasaran, dan distribusi produk hasil kegiatan penanaman tanaman atau pemeliharaan hewan ternak (Syafei, 2016). Salah satu metode urban farming yang tengah digemari adalah hidroponik. Hidroponik sendiri adalah budidaya tanaman pada air seperti yang dicetuskan pertama kali oleh Gericke pada tahun 1936. Dalam bahasa Yunani, hidroponik berasal dari dua kata, yaitu “hydro” yang berarti air dan “ponos” yang memiliki arti bekerja (bercocok tanam) pada media air (Dr. Susilawati, 2019). Sederhananya, hidroponik merupakan salah satu metode budidaya tanaman dengan menggunakan media air yang diperkaya dengan nutrisi. Hal ini membuat pengendalian nutrisi, pengendalian hama, dan pencahayaan lebih mudah diawasi dan dikendalikan. Hidroponik tidak memerlukan penggunaan pestisida beracun sehingga lebih ramah lingkungan dan nantinya sayuran atau buah-buahan yang dihasilkan akan lebih sehat dan organik. Penanaman dengan metode hidroponik akan menghasilkan tanaman yang memiliki kualitas yang baik dan bebas dari bahan kimia berbahaya.

Read More …

Dampak Pestisida dalam Pencemaran Tanah dan Air Tanah

Tanah merupakan hasil alam dari kombinasi mineral dan bahan organik di permukaan bumi. Peran tanah sebagai tempat hidup tumbuhan, menjadikan tanah sebagai fondasi dari ekosistem terestial (darat). Tanah adalah tempat bahan organik membusuk juga tempat elemen mineral kembali dalam siklus materi. Tanah juga menjadi habitat hewan, penyedia air, dan nutrisi bagi tumbuhan. Pembentukan tanah berawal dari pelapukan batuan dan mineral. Dalam proses pelapukan fisik, air, angin, suhu, dan tumbuhan berperan dalam menghancurkan batuan. Dalam proses pelapukan kimiawi, aktivitas organisme tanah, juga asam dan hujan yang dilepaskan oleh bahan organik tanah membantu menghancurkan mineral esensial (Hj. Tina Safaria Nilawati). Air tanah mengacu pada semua jenis air yang terletak di bawah lapisan tanah. Air tanah menyumbang sekitar 0,6% dari total air di bumi. Jika digabungkan, jumlah air tanah lebih banyak daripada air sungai dan danau, bahkan air yang terdapat di atmosfer. Air tanah bisa dikategorikan menjadi air tanah dangkal dan air tanah dalam. Biasanya, orang lebih sering menggunakan air tanah dangkal dengan membuat sumur dengan kedalaman tertentu. Kedalaman rata-rata air tanah dangkal adalah 9 sampai 15 meter di bawah permukaan tanah. (Sinta, 2017).

Read More …