Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L.)

Gambar 1. Morfologi Tanaman Kentang (Sumber: https://www.inspection.gc.ca/plant-varieties/potatoes/guidance-documents/pi-005/chapter-3/eng/1381190037846/1381190038643, 2013)

Kentang merupakan tanaman jenis umbi-umbian dan tergolong tanaman dikotil dengan usia tanam yang rendah, bervariatif sesuai dengan jenis varietasnya sekitar 90-180 hari. Sifat tumbuhnya itu menjadi bersemak dan menjalar serta mempunyai penampang batang berbentuk segi empat. Batang juga daun, umumnya berwarna hijau kemerahan atau cenderung ke warna ungu. Umbi kentang berawal dari cabang samping yang masuk ke dalam tanah, sebagai lokasi tersimpannya cadangan karbohidrat sehingga bentuk umbinya membengkak. Umbi dapat mengeluarkan tunas, sehingga nantinya akan membentuk cabang tanaman kentang yang baru. Umbi inilah yang kemudian dipanen untuk dapat dikonsumsi sebagai sumber karbohidrat selain beras (Aini, 2012)

Sesuai dengan taksonomi tanaman kentang secara umum dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom         : Plantae

Divisi               : Spermatophyta

Subdivisio       : Angiospermae

Kelas               : Dicotyledone

Ordo                : Tubiflorae

Famili              : Solanaceae

Genus              : Solanum

Spesies            : Solanum tuberosum L

Read More …

Karakteristik Kemampuan Lahan dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

DAS merupakan ekosistem yang terdiri atas unsur biotik dan abiotik. Unsur utama dari DAS adalah tanah, air, vegetasi, serta sumber daya manusia yang saling berinteraksi untuk saling memanfaatkan dan mempengaruhi satu sama lainnya. Efektif tidaknya suatu tata kelola Daerah Aliran Sungai (DAS) dipengaruhi oleh karakteristik kemampuan DAS. Kemampuan lahan merupakan penilaian dimana lahan dikelompokkan kedalam beberapa kategori berdasarkan atas sifat-sifat yang merupakan potensi atau penghambat dalam penggunaannya. Kemampuan lahan lebih menekankan pada kapasitas berbagai penggunaan lahan secara umum yang dapat diusahakan di suatu wilayah DAS agar kondisi tetap lestari dan sustain. Terdapat beberapa parameter yang dapat menentukan kelas kemampuan lahan. Kelas karakteristik tersebut yang kemudian menjadi titik acuan untuk mengelola DAS. Upaya pengelolan bergantung kepada hasil analisis kesesuaian penggunaan lahan terhadap kemampuannya berupa kelas-kelas dari karakteristik kemampuan DAS.

Read More …

EM4, Stimultor Pembuatan Kompos dari Limbah Organik

Sampah daun merupakan salah satu jenis sampah organik yang dihasilkan dari bahan hayati. Sampah daun dapat ditemukan di sekitar lingkungan, seperti lingkungan kampus Universitas Padjadjaran yang banyak ditumbuhi oleh pepohonan. Setiap harinya, pepohonan akan menggugurkan daunnya sehingga menghasilkan sampah daun yang cukup banyak. Penanganan yang telah dilakukan adalah dengan mengumpulkan sampah daun hingga menumpuk kemudian membakarnya, proses pembakaran inilah yang membuat kegiatan pengolahan limbahnya menjadi tidak ramah lingkungan. Melihat proses penanganan sampah organik yang masih kurang efektif, perlu dikembangkan pengelolaan sampah organik menjadi produk yang bermanfaat melalui proses pengomposan. Akan tetapi, sebagian besar masyarakat masih belum memanfaatkan sampah daun sebagai pupuk organik. Hal ini dikarenakan proses pengomposan sampah daun melalui agen dekomposer secara alami itu membutuhkan waktu yang lama. Namun, pengomposan dapat dipercepat dengan menambah bahan stimulator. Salah satu stimultor yang umum digunakan adalah bahan stimulus berisi mikrobia terpilih Effective Microorganism 4.

Read More …