Anggur (Vitaceae)

Gambar 1. Struktur biji anggur (Sumber : https://www.researchgate.net/publication/11982528_Does_phosphoenolpyruvate_carboxykinase_have_a_role_in_both_amino_acid_and_carbohydrate_metabolism, 2001)

Angur merupakan salah satu tanaman yang dapat dibudayakan di daerah dingin, subtropis, dan daerah tropis (Setiadi, 2005). Meskipun anggur sendiri disinyalir berasal dari wilayah selatan (beriklim dingin) lalu menyebar ke wilayah Eropa dan Amerika Utara, namun pada dasarnya tanaman anggur ini lebih baik ditanam di daerah tropis (bersifat tahunan dan beriklim tropis) (Sari, 2019). Berikut merupakan klasifikasi anggur (Setiadi, 2005) :

Kingdom : Plantae, Division : Magnoliophyta, Class : Magnoliopsida, Order : Vitales, Family : Vitaceae,  Genus : Vitis

Species : V. Vinifera L., V. Labrusca, V. tiliifolia, V. shuttleworthii, V. rupestris, V. rotundifolia, V. riparia, V. palmata, V. novae-angliae, V. mustangensis, V. muscadinia, V. munsiniana, V. lincecumii, V. girdiana, V. doanoan, V. davidii, V. coignetiae, V. cinerel, V. champinii, V. californica, V. berlandieri, V. arizonica, V. amurensis, V. acerifolia, V. aestilavis.

Meski memiliki banyak spesies namun hanya 2 yang dikenal luas oleh masyarakat Indonesia, yaitu Vitis vinifera dan Vitis labrusca. Dari kedua spesies ini hanya beberapa pula varietas yang dapat tumbuh dengan baik di Indonesia, salah satunya untuk spesies V. vinifera yaitu anggur Bali, atau anggur Probolinggo biru atau putih, sedangkan untuk spesies V. labrusca hanya varietas isabella (Setiadi, 2005).

Tanaman anggur merupakan salah satu tanaman tahunan yang tumbuh memanjat atau merambat, dan dikelompokan kedalam kelas dikotil (biji berkeping dua) (Nurcahyo, 1999). Seperti yang telah diketahui bahwa tanaman anggur merupakan tanam dikotil sehingga tanaman ini mempunyai akar tunggang (radix primaria) dimana seperti pada umumnya memilikiperan sebagai penghisap makanan. Akar tanaman anggur ini besarnya mengikuti besar tempat tanaman itu tumbuh namun jika dikembangkan di tanah dengan lahan yang luas, akar tanaman anggur mampu menembus tanah hingga kedalaman 30 – 60 cm bahkan lebih (Suwito, 2007).

Gambar 2. Akar Anggur (Sumber : https://www.researchgate.net/publication/237296145_Grapevine_Structure_and_Function, 2003)

Secara morfologinya, berikut merupakan bagian – bagian akar (Hidayat, 1994) :

  1. Tudung akar (root cap) yang berfungsi melindungi akar saat menembus tanah.
  2. Daerah pembelahan (meristematic zone) dimana berfungsi sebagai tempat pembelahan sel secara berulang – ulang sehingga jumlah sel meningkat, biasanya ditandai dengan dinding sel yang tipis juga sel yang kecil – kecil.
  3. Daerah pemanjangan (elongation region) berperan penting dalam pertumbuhan akar, dimana daerah ini menjadi tempat pertumbuhan, pemanjangan dan pembesaran sel.
  4. Daerah pematangan (maturation region) daerah yang paling mendekati batang, dimana pada bagian ini sel – sel berubah menjadi sel dewasa.
Gamabar 3. Struktur akar (Sumber : https://rumus.co.id/struktur-akar/, 2019)

Akar mempunyai bagian penting yang mendukung proses pertumbuhan tanaman, yaitu xilem dan floem. Xilem merupakan sistem konduksi pengangkut air dan nutrisi terlarut yang diserap oleh akar menuju ke seluruh tanaman, sedangkan floem adalah sistem pengatur makanan yang mengangkut produk fotosintesis dari daun ke bagian lainnya. Jaringan xilem pun berfungsi sebagai penyimpan produk makanan, hal ini llah yang mendasari akar berfungsi sebagai tempat penyimpan cadangan makanan (Edward, 2003).

Batang tanaman anggur merupakan salah satu tanaman batang berkayu yang beruas – ruas atau berbuku – buku dan akan tumbuh memanjat (menjalar). Batang tanaman anggur yang dapat berkembang di Indonesia umumnya hanya berdiameter sebesar pensil (2 – 5 cm), namun batang tanaman anggur ini mampu berkembang hingga lebih dari 10 cm. Berikut merupakan jenis batang tanaman anggur (Hidayat 1994) :

  1. Berdasarkan bentuk penampangnya termasuk kedalam jenis batang bulat (teres).
  2. Berdasarkan permukaan batangnya termasuk kedalam jenis batang halus.
  3. Berdasarkan arah tumbuhnya termasuk kedalam jenis batang memanjat (scandens) dengan cabang pembelit berbentuk sulur.
Gambar 4. Tanaman anggur (Sumber : https://www.evineyardapp.com/blog/2017/05/30/overview-of-grapevine-structure-and-function/, 2017)

Struktur batang tanaman anggur terdiri dari batang utama, cabang primer, cabang skunder, dan cabang tersier yang merupakan cabang penghasil bunga (buah). Cabang batang anggur tumbuh tidak jauh dari permukaan, dan sifat inilah yang membuat tanaman anggur termasuk kedalam golongan tumbuhan semak (Nurcahyo, 1999). Batang tanaman anggur memiliki buku – buku yang setiap buku batangnya mempunyai mata tunas. Cabang bermata tunas ini lah yang digunakan sebagai bahan perbanyakan tanaman secara vegetatif. Kulit batang tanaman anggur pada umumnya berwarna hijau jika masih masih muda, dan akan mulai mencoklat setelah tua (Rukmana, 1999).

Daun tanaman anggur merupakan daun tunggal (satu helai setiap tangkai daun) yang memiliki bentuk beragam yaitu bentuk jantung (kodat), pentagonal, lingkaran, dan ginjal dengan bagian yang bergerigi serta bertekstur kasar. Pada umumnya daun tanaman anggur dapat tumbuh hingga panjang sekitar 10 – 14 cm dengan lebar mencapai 8 – 14 cm (Rukmana, 1999).

Gambar 5. Struktur daun anggur (Sumber : https://jagad.id/pengertian-daun/, 2020)

Tanaman anggur memiliki bunga dengan tipe malai (kumpulan bunga) yang mana pada satu cabang atau sulur dapat menghasilkan satu hingga tiga malai (bergantung pada varietasnya). Bunga anggur tidak memiliki kelopak yang mencolok namun lebih menyatu menjadi struktur hijau yang disebut kalypra. Kalypra ini berfungsi membungkus organ reproduksi dan jaringan lain di dalam bunga.

Gambar 6. Bunga anggur (Sumber : https://grapes.extension.org/parts-of-the-grape-vine-flowers-and-fruit/, 2019)

Bunga anggur terdiri dari putik tunggal (organ betina) dan lima benang sari yang masing – masing berujung dengan kepala sari (organ jantan). Periode waktu dimana bunga muncul hingga mekar dapat berlangsung dari 1 hingga 3 minggu tergantung pada kondisi cuaca. Kelopak bunga mekar maka akan lepas dan berganti menjadi calon buah (Hellman, 2019).

Buah anggur memiliki berbagai bentuk seperti bulat (spherical), oval (ellipsoida), oval kesamping (oblate), dan oval memanjang (elipsoidal elongated) (Rukmana, 1999). Ukuran dari buah anggur sendiri berkisar 2 – 4 cm dengan warna sesuai dengan varietasnya (ungu atau hitam, hijau, dan merah). Buah anggur memiliki kulit yang tipis dan daging buah berwarna putih keabu – abuan dengan tekstur lunak berserat. Di dalam buah anggur biasanya terdapat biji berukuran 1 – 4 mm dengan jumlah biji genap. Namun seiring berjalannya teknologi banyak perkebunan anggur menambahkan GA3 (Gibberellic) saat proses penanaman sehingga tanaman anggur yang berbuah tidak menghasilkan biji.

Gambar 7. Struktur buah anggur matang (Sumber : https://www.intechopen.com/books/grape-and-wine-biotechnology/grape-and-wine-metabolites-biotechnological-approaches-to-improve-wine-quality, 2016)

Anggur merupakan salah satu buah yang digemari oleh masyarakat Indonesia, buah anggur ini dapat dikonsumsi langsung atau pun dapat dikonsumsi setelah diproses (menjadi jus atau minuman beralkohol). Di Indonesia buah anggur ini dinilai sebagai tanaman komersial sehingga banyak masyarakat yang mulai ingin menanam anggur di pekarangan rumah, namun kurangnya lahan menjadi faktor masalah utama. Sebagian besar wilayah sudah ditutupi oleh bangunan dan tak banyak lahan tanah kosong yang tersisa, sehingga penanaman secara hidroponik menjadi salah satu solusi.

Akar tanaman anggur merupakan salah satu akar tanaman yang tidak tahan terhadap genangan air, sehingga tidak semua sistem hidroponik mampu dijadikan alternatif penanaman tanaman anggur. Penggunaan sistem hidroponik pot dengan media tanam menjadi solusi tepat untuk menanam tanaman anggur ini. Dimana media tanam yang dapat digunakan dalam proses penanaman anggur adalah sekam bakar, cocopeat, atau hydroton, hal ini dikarenakan anggur merupakan tanaman merambat dengan umur panjang sehingga jika menggunakan sistem hidroponik diharuskan memperhatikan ukuran dan media tanamnya.

Pada dasarnya menanam anggur secara hidroponik tidak berbeda jauh dengan menanam tanaman lain secara hidroponik, namun perlu diperhatikan dalam pemberian air dan nutrisi. Anggur memerlukan nutrisi tanaman buah (general buah) bukan nutrisi tanaman sayur. Dikarenakan nutrisi tanaman sayur akar lebih fokus memenuhi kebutuhan pertumbuhan batang dan daun, sedangkan nutrisi tanaman buah berpusat pada pemenuhan kebutuhan bunga dan buah.

Menanam anggur dapat dimulai dari penyemaian biji (benih) atau pun secara stek. Penyemaian biji anggur dapat dilakukan pada media tanam lain seperti rockwoll atau pun langsung pada media tanam yang akan digunakan (dalam contoh kasus cocopeat). Saat proses penyemaian hanya perlu dipastikan bahwa media tanam selalu basah (hanya dengan air mineral) tanpa tergenang oleh air dengan suhu dingin tapi diatas titik beku, serta pencahayaan yang gelap dan biarkan hingga berkecambah. Jika sudah berkecambah bibit anggur ini dapat dibawa keluar (tanpa terkena cahaya langsung) dalam suhu kamar, perlu diingat pada masa ini penggunaan nutrisi bisa dilakukan namun dengan nilai konsentrasi ppm yang rendah (berkisar 500 ppm).

Jika penyemaian dilakukan pada rockwoll atau pada media tanam yang berbeda, proses pindah tanam dapat dilakukan pada periode ini. Saat proses pindah tanam tidak perlu menyingkirkan media tanam sebelumnya, hal ini dilakukan agar mengurangi kemungkinan akar rusak saat. Selama 3 bulan pertama disarankan menggunakan nutrisi general sayur dibanding nutrisi general buah, hal ini dikarenakan pada periode ini tanaman anggur lebih membutuhkan nutrisi untuk perkembangan akar, batang dan daun. Setelahnya penambahan nutrisi general buah dapat dilakukan dengan konsentrasi 1500 ppm. Proses penyiraman air besarta nutrisi dapat dilakukan sebanyak 2 liter setiap hari tanpa perlu khawatir akar menjadi busuk, hal ini dikarenakan cocopeat akan mengikat air tanpa membuatnya tergenang.

DAFTAR PUSTAKA

Cosme, F. 2016. Grape and Wine Metabolites: Biotechnological Approaches to Improve Wine Quality. Terdapat pada : https://www.intechopen.com/books/grape-and-wine-biotechnology/grape-and-wine-metabolites-biotechnological-approaches-to-improve-wine-quality

Edward, W. H. 2003. Grapevine Structure and Function. Terdapat pada : https://www.researchgate.net/publication/237296145_Grapevine_Structure_and_Function

Hellman, E. D. 2019. Parts of The Grapes Vine : Flowers and Fruit. Terdapat pada : https://grapes.extension.org/parts-of-the-grape-vine-flowers-and-fruit/

Hidayat, E. B. 1994. Morfologi Tumbuhan. Institut Teknologi Bandung : Bandung.

Nurcahyo, E. 1999. Anggur dalam Pot. Penebar Swadaya : Jakarta.

Rahmah, A. 2019. Struktur Akar. Terdapat : https://rumus.co.id/struktur-akar/

Rukmana, R. 1999. Anggur. Penerbit Kanisius : Yogyakarta.

Sari, I. P. Buah Anggur. Terdapat pada: https://hijaukan.com/buah-anggur/

Setiadi. 2005. Bertanam Anggur. Jakarta : Penebar Swadaya.

Suwito, P. 2007. Bertanam Anggur Dalam Pot. Arka Press : Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *