Ancaman Kualitas Air Waduk Di Masa Depan

Waduk merupakan tempat ataupun wadah dalam menampung air dengan jumlah yang sangat besar. Waduk memiliki fungsi seperti danau, namun terdapat perbedaan yang cukup signifikan yaitu proses pembuatannya. Danau terbentuk secara alami, bisa dari proses vulkanologis, aliran air sungai, dan lainnya, sedangkan waduk terbentuk atas proses pembangunan manusia. Sumber air waduk biasanya berasal dari tampungan air hujan, aliran air sungai yang dibendung, atau berasal dari air tanah. Ketersediaan air dalam waduk ini sangat dipengaruhi oleh proses infiltrasi ataupun evaporasi pada waduk tersebut (Notohadiprawiro dkk., 2006).

Dengan jumlah air yang begitu besar, maka waduk memiliki banyak manfaat. Beberapa manfaat waduk yaitu:

  1. Sebagai irigasi pertanian
    Waduk berperan penting dalam irigasi pertanian daerah sekitarnya;
  2. Sebagai PLTA
    Bendungan yang dibuat berfungsi sebagai perwujudan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). PLTA nantinya akan menghasilkan listrik yang akan digunakan oleh warga sekitar, bahkan jika dalam kapasitas besar, listrik bisa memfasilitasi hingga satu pulau;
  3. Sebagai sumber air
    Sumber air disini dimaksudkan untuk kebutuhan minum, mencuci pakaian, mandi, dan lainnya oleh warga sekitar;
  4. Sebagai tempat tambak ikan
    Warga sekitar memanfaatkan waduk untuk tempat berbudidaya ikan karena dinilai menjanjikan dan menguntungkan;
  5. Sebagai tempat hidup hewan dan tumbuhan air; dan
  6. Sebagai tempat rekreasi.

Manfaat waduk pada poin ke-3 sangat bersinggungan langsung dengan kondisi kesehatan warga sekitar waduk. Poin ini mendapat perhatian khusus sebab kondisi air waduk saat ini mulai mengkhawatirkan. Sebagai contoh atas kondisi waduk di Indonesia, akan diberikan dua contoh kasus.

1. Waduk Jatiluhur

Kasus pertama, yaitu Waduk Jatiluhur. Waduk Jatiluhur berada di daerah Purwakarta, Jawa Barat. Sumber air Waduk Jatiluhur berasal dari Sungai Citarum, dengan panjang sungai sepanjang 270 km dan berhulu di Gunung Wayang, Kabupaten Bandung, Sungai Citarum memiliki tiga waduk sesuai aliran sungainya yaitu Waduk Saguling, Waduk Cirata, dan Waduk Jatiluhur (Supangat dan Paimin, 2007).

Sungai Citarum memiliki banyak permasalahan seperti akibat dari pembuangan limbah pabrik maupun rumah tangga, pembuangan sampah di sungai serta tingginya kandungan polutan dalam air. Permasalahan ini berakibat pada tercemarnya Waduk Jatiluhur yang dialiri oleh Sungai Citarum, sehingga sangat berbahaya untuk warga sekitar apabila diminum airnya. Namun hal itu dapat dicegah maupun diperlambat karena waduk itu sendiri bisa berfungsi sebagai pengendali kualitas air serta melakukan penjernihan secara alami agar air dapat dimanfaatkan kembali oleh warga sekitar. Cara lainnya yaitu melakukan perbaikan pada aliran Sungai Citarum seperti pembersihan sampah, pengerukan agar sungai tidak dangkal, serta mengolah limbah agar tidak langsung dibuang ke sungai hingga pada akhirnya secara perlahan air Waduk Jatiluhur mengalami peningkatan kualitas airnya karena polutan terus berkurang. UNPAD sebagai universitas di Jawa Barat juga telah membantu pembersihan Sungai Citarum, salah satunya melalui Program KKN (Kuliah Kerja Nyata) “Citarum Harum”.

Selain dikarenakan permasalahan pada aliran sungai, penurunan kualitas air waduk bisa terjadi karena budidaya ikan melalui tambak seperti yang terjadi di Waduk Jatiluhur. Banyaknya tambak ikan / keramba jaring apung di Waduk Jatiluhur mempengaruhi kualitas air hingga terjadi penurunan. Masalah ini berasal dari limbah organik pakan ikan yang digunakan. Apabila 1 petak tambak membutuhkan 4-5 kg pakan, maka jika 1.000 petak maka membutuhkan 4-5 ton pakan dalam satu hari. Bagaimana dengan satu bulan, satu tahun, sepuluh tahun, tidak bisa dibayangkan sebanyak apa limbah organik dari pakan tersebut. Pencemaran ini tentu akan berefek pada meningkatnya kandungan BOD (Biochemical Oxygen Demand) pada perairan waduk (Yustiani dkk., 2019).

Bukan tidak mungkin, dalam waktu dekat maka Waduk Jatiluhur akan mengalami pendangkalan serta berkurangnya volume air yang berimbas pada makhluk hidup sekitar waduk. Waduk yang seharusnya menjadi sebuah ekosistem dan menunjang dengan semua manfaatnya malah berbalik menyerang makhluk hidup akibat pendangkalan tersebut. Dampak jangka pendek suatu waduk yang mengalami pendangkalan yaitu pada sektor pertanian dan perikanan. Irigasi dalam pertanian tentu akan terganggu akibat pendangkalan ini karena volume air sudah berkurang, sedangkan untuk perikanan yaitu ikan akan cepat terkena penyakit dan juga telur ikan akan mengalami kesusahan dalam berkembang. Dampak jangka panjang suatu waduk yang mengalami pendangkalan yaitu erosi serta banjir pada daerah sekitar waduk tersebut (Dian dkk., 2012).

2. Waduk Jatibarang

Contoh kasus kedua yaitu Waduk Jatibarang, Kota Semarang, Jawa Tengah. Manfaat Waduk Jatibarang selain yang disebutkan pada keenam poin diatas, juga sebagai pengendali banjir serta meningkatkan kualitas air pada Sungai Garang. Hasil sampel menunjukkan bahwa sesudah Waduk Jatibarang dibangun kualitas air Sungai Garang perlahan mulai membaik. Parameter seperti temperatur, pH, kandungan BOD, kandungan nitrit, dan kandungan lainnya diukur dengan cara dibandingkan dari tahun sebelumnya. Dengan adanya Waduk Jatibarang, angin yang terdapat pada waduk menyebabkan pencampuran bahan pada kolam air seperti tanah liat dan lumpur serta proses oksigenasi. Proses ini nantinya akan berfungsi dalam pengurangan komposisi polutan-polutan yang telah dibawa oleh aliran Sungai Garang. Hal tersebut membuktikan bahwa waduk bisa memperbaiki kualitas air secara alami (natural self-purification capacity). Tentu saja, hal tersebut bukanlah hal cukup apabila hanya mengandalkan kemampuan alami waduk, perlu solusi lain yang dilakukan pada Sungai Garang agar beban waduk tidak terlalu berat. Air waduk yang akan digunakan juga nantinya diharapkan memiliki kualitas yang lebih baik lagi di masa yang akan datang (Alam dkk., 2016).

Kesimpulan

Apabila dalam jangka waktu ke depan, permasalahan-permasalahan mengenai penyebab menurunnya kualitas air, seperti pada kedua kasus di atas tidak dibenahi dan tidak dicari solusinya, maka permasalahan tersebut akan menimbulkan dampak signifikan baik jangka pendek (sektor ekonomi) maupun jangka panjang (lingkungan seperti banjir dan erosi). Pembenahan dan pengelolaan untuk menciptakan waduk yang memiliki kualitas air yang baik, tentu tidak luput dari peranan pemerintah dan warga sekitar, walaupun pada dasarnya secara alamiah waduk dapat menyembuhkan diri sendiri atau biasa disebut (natural self-purification), namun nyatanya hal tersebut menimbulkan dampak lain yaitu terjadinya pendangkalan waduk. Perlu adanya pengelolaan, pembersihan serta penertiban limbah organik maupun anorganik secara langsung yang diharapkan mampu meningkatkan kualitas air waduk. Untuk itu, perlu adanya perhatian khusus baik dari pemerintah maupun warga sekitar, dalam upaya melestarikan dan memelihara keberlangsungan kualitas air waduk, karena waduk merupakan suatu ekosistem yang secara keseluruhan dapat mempengaruhi makhluk hidup disekitarnya. Oleh karena pentingnya waduk dalam keberlangsungan makhluk hidup disekitarnya khususnya dalam mendapatkan kualitas air yang baik, maka kita harus mejaga ekosistem waduk tersebut, agar nantinya dapat dinikmati oleh anak cucu kita dimasa yang akan datang.

 

DAFTAR PUSTAKA

Alam, Ovane Tiana Ywa., dkk. 2016. Pengaruh Waduk Jatibarang Terhadap Kualitas Air Sungai Garang di Intake PDAM Semarang. Semarang: Program Studi S1 Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. Jurnal Teknik Lingkungan, Vol 5, No 2.

Dian W.P, Sucihatiningsih, dkk. 2012. Dampak Sedimentasi Bendungan Soedirman Terhadap Kehidupan Ekonomi Masyarakat. Semarang: Universitas Negeri Semarang. Jejak 5 : 117-229.

Notohadiprawiro, Tejoyuwono., dkk. 2006. Beberapa Fakta dan Angka Tentang Lingkungan Fisik Waduk Wonogiri dan Kepentingannya Sebagai Dasar Pengelolaan. Yogyakarta : Program Studi Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada.

Supangat, Agung B., dan Paimin. 2007. Kajian Peran Waduk Sebagai Pengendali Kualitas Air Secara Alami. Surakarta: Jurnal Geografi Universitas Muhamadiyah Surakarta, Vol.: 21, No. 2.

Yustiani, Y.M., dkk. 2019. Identifikasi Nilai Laju Deoksigenasi di Daerah Padat Penduduk (Studi Kasus Sungai Cicadas, Bandung)Journal of Community Based Environmental Engineering and Management, vol. 3 (1): 9-14.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *