Agrowisata dan Agroindustri Stroberi Menggunakan Sistem Urban Agriculture Greenhouse

Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang memiliki wilayah dataran tinggi dan dataran rendah dengan keragaman suhu. Kondisi tersebut menyebabkan Indonesia mempunyai peluang untuk mengembangkan berbagai komoditi pertanian dengan sistem pengelolaan lahan yang sesuai. Stroberi merupakan buah yang berasar dari pegunungan chili yang beriklim subtropis, namun di Indonesia stroberi dapat dibudidayakan di daerah yang berada di dataran tinggi sekitar 1000 meter diatas permukaan laut dengan suhu rata-rata 17-20oC. Stroberi memiliki nilai ekonomi tinggi dengan daya tarik yang terletak pada warna buahnya yang merah dan rasanya yang manis segar. Stroberi mempunyai peluang bisnis tidak hanya di luar negeri tetapi juga di pasar dalam negeri. Hasil panen buah stroberi umumnya didistribusikan ke hotel-hotel, restoran, kafe, pasar swalayan dan industri pengolahan pangan. Stroberi tidak hanya dapat dikonsumsi segar tetapi juga dapat diolah menjadi berbagai macam produk seperti selai, manisan, sirop, dodol, jus, sari buah, sorbet, bahan tambahan untuk yoghurt dan es krim.

Banyaknya industri pengolahan pangan yang memanfaatkan buah stroberi sebagai bahan bakunya membuka peluang bagi pengusaha budidaya stroberi untuk dapat mengembangkan usahanya. Sampai saat ini produksi stroberi belum dapat memenuhi permintaan pasar di dalam negeri. Contohnya saja pemasok buah stroberi dari ciwidey hanya dapat memenuhi 25-50% permintaan untuk pasar swalayan. Selain itu produsen selai dan es krim di Jakarta juga mengalami kesulitan dalam pemenuhan bahan bakunya sehingga harus mendatangkan stroberi dari berbagai kota seperti bandung dan bali (Budiman & Saraswati, 2005). Kebun stroberi yang memiliki keindahan hamparan daun yang hijau dengan buah yang kontras berwarna merah juga menjadi daya tarik untuk dijadikan agrowisata. Pengunjung dapat memetik buah stroberi sendiri sampai menikmati produk hasil olahan stroberi. Selain itu pengunjung juga dapat belajar menanam dan berkebun stroberi.

Budidaya Stroberi

Budidaya stroberi di Indonesia yang merupakan daerah tropis memiliki beberapa kendala, antara lain ketersediaan bibit, keterbatasan lokasi penanaman, kondisi iklim (cahaya, suhu, angin dan kelembaban), kendala hama dan penyakit, serta biaya investasi yang cukup tinggi. Di Indonesia, tanaman stroberi dapat tumbuh dengan baik pada lingkungan beriklim sedang dengan ketinggian lebih dari 600 m dpl dimana suhu udara pada siang hari berkisar antara 22-25oC sedangkan pada malam hari 14-18 oC dengan kelembapan udara ralatif tinggi 85-95%. Kondisi yang dapat menyebabkan stres dan membuat pertumbuhan tanaman terganggu adalah berkurangnya kelembapan udara seperti embusan angin yang kuat dan suhu yang tinggi yang dapat menyebabkan laju traspirasi tinggi (kehilangan air pada jaringan). Suhu dan kelembapan yang terlalu tinggi akan menyebabkan tumbuhnya jamur sehingga tanaman akan rusak (Kurnia, 2005). Tanaman stroberi membutuhkan intensitas cahaya yang rendah dengan lama penyinaran bergantung pada varietasnya. Berdasarkan musim berbuah dan lama penyinarannya, stroberi diklasifikasikan menjadi ever-bearers, april-bearers, dan june-bearers. June-bearers merupakan stroberi short day cultivar (kultivar hari pendek) yang berbuah pada akhir musim semi menjelang musim panas (atau berproduksi sekali pada bulan juni). Stroberi jenis ini membutuhkan lama penyinaran kurang dari 12 jam untuk mengalami rangsangan pembungaan, namun jika suhu diturunkan menjadi 16oC lama penyinaran dapat lebih dari 12 jam. Ever-bearers termasuk long day plans atau tanaman hari netral yang tidak terpengaruh panjangnya hari, dimana lama penyinaran dapat lebih dari 12 jam (Manrique, 1993).

Stroberi dapat ditanam baik sebagai bibit maupun sebagai tanaman baik di luar ruangan (lapangan) maupun di dalam ruangan (greenhouse). Dalam sistem penanaman di luar ruangan, pertumbuhan tanaman dan hasil panen bervariasi karena sangat bergantung pada lingkungan. Untuk meminimalkan variabilitas akibat kondisi lingkungan,  penanaman dapat dilakukan menggunakan sistem greenhouse atau rumahkaca. Penggunaan greenhouse di daerah tropis digunakan untuk dapat mengontrol suhu, tekanan dan aliran udara serta intensitas cahaya matahari. Greenhouse dapat melindungi tanaman dari intensitas hujan dan intensitas cahaya matahari yang berlebihan. Karena sistem greenhouse sangat mengandalkan manipulasi kondisi lingkungan untuk pertumbuhan tanaman, maka biaya investasinya pun sangat tinggi. Sehingga, untuk memastikan keuntungan yang akan didapatkan, sistem greenhouse digunakan pada produksi tanaman dengan pasar yang cukup kuat dan memiliki harga yang tinggi dengan kemampuan untuk memanfaatkan secara maksimal kemajuan teknologi terkini untuk memaksimalkan produktivitas per unit area  (Manrique, 1993). Namun di Indonesia yang beriklim tropis dan memiliki suhu udara yang tidak terlalu ekstrim dalam aplikasinya, greenhouse memiliki konstruksi yang lebih sederhana dengan kontrol yang relative sedikit (Rizkiani et al., 2020). Penanaman pada kondisi luar ruangan dapat menggunakan sistem hilling (guludan atau bedengan) dan mulsa. Sedangkan penanaman dalam greenhouse dapat menggunakan media tanah atau hidroponik.

Di daerah yang memiliki suhu panas dan sinar matahari yang cerah memerlukan naungan untuk dapat mengurangi intensitas cahaya dan menurunkan suhu. Naungan dapat menurunkan suhu udara di rumah kaca 5–10oC lebih rendah dari suhu luar ruangan, dan kelembaban relatif (RH) dapat ditingkatkan sekitar 15–20%. Dibandingkan dengan radiasi matahari di rumah kaca tanpa naungan, naungan di rumah kaca dapat mengurangi radiasi matahari sebesar 30-50%. Suhu yang sesuai tidak hanya meningkatkan pertumbuhan tanaman stroberi tetapi juga meningkatkan kualitas buah stroberi (Tang et al., 2020).  Penggunaan greenhouse dan naungan dapat digunakan untuk budidaya tanaman stroberi tidak hanya didataran tinggi namun juga dapat dilakukan didataran rendah.

Agrowisata dan Agroindustri Stroberi

Agrowisata merupakan bentuk kegiatan pariwisata yang memanfaatkan usaha agro (pertanian, perkebunan, peternakan) sebagai objek wisata yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan (knowledge), pengalaman (experience), rekreasi dan hiburan (Tjahyadi et al., 2019). Agar dapat bersaing dan unggul, agrowisata harus mampu berorientasi pada proses pemenuhan keinginan dan kebutuhan konsumen serta menjadikan pengunjung sebagai prioritas utama dalam memberikan produk yang bernilai, serta pelayanan dan fasilitas terbaik. Fasilitas yang dapat ditawarkan dalam agrowisata stroberi adalah edukasi dan rekreasi. Fasilitas edukasi diantaranya, pengetahuan mengenai buat stroberi, cara menanam, cara merawat tanaman hingga cara panen, dan memetik buah stroberi sendiri. Bibit dan taaman stroberi juga dijual untuk wisatawan yang ingin menanam stroberi dipekarangan rumahnya. Agrowisata stroberi juga mengolah berbagai macam hasil olahan stroberi yang dapat dokonsumsi dan dibeli oleh wisatawan.  Selain itu wisatawan juga dapat belajar mengolah hasil panen stroberi menjadi produk. Fasilitas rekreasi yang disediakan agrowisata diantaranya restoran dan tempat duduk yang nyaman, toko oleh-oleh, fasilitas ibadah dan toilet, photobooth, saung dan gazebo sebagai tempat istirahat.

Buah stroberi segar dapat diolah menjadi produk makanan maupun minuman. Pengolahan stroberi dilakukan untuk dapat memperpanjang umur simpan, menampung kelebihan produksi pada saat panen raya dan memanfaatkan buah yang tidak memenuhi standar mutu buah segar karena lecet, cacat, ukurannya yang terlalu kecil atau bentuknya abnormal.  Stroberi segar Grade A dan B dijual dalam keadaan segar baik dilokasi agrowisata maupun dipasok ke pasar swalayan, hotel dan restoran. Stroberi grade C dan off grade diolah menjadi produk diantaranya selai, dodol, manisan, sari buah, sorbet dan es krim.

Sumber

Budiman, S., & Saraswati, D. (2005). Berkebun Stroberi Secara Komersil. Penebar Swadaya. https://books.google.co.id/books?id=Oyu9LusdS3wC

Kurnia, A. (2005). Petunjuk Praktis Budi Daya Stroberi. PT. AgroMedia Pustaka. https://books.google.co.id/books?id=j8jInfxuSyEC

Manrique, L. A. (1993). Greenhouse crops: A review. Journal of Plant Nutrition, 16(12), 2411–2477. https://doi.org/10.1080/01904169309364697

Rizkiani, D. N., Sumadyo, A., & Marlina, A. (2020). GREENHOUSE SEBAGAI WADAH PENELITIAN HORTIKULTURA. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Arsitektur (Senthong), 3(2), 461–470.

Tang, Y., Ma, X., Li, M., & Wang, Y. (2020). The effect of temperature and light on strawberry production in a solar greenhouse. Solar Energy, 195(November 2019), 318–328. https://doi.org/10.1016/j.solener.2019.11.070

Tjahyadi, R. A., Maharsi, A. R., Kuswoyo, C., Magdalena, N., Kristiawan, A., Aprillia, A., Lu, C., Imasari, K., Aribowo, A., Kurniawati, K., Abednego, F., Gunawan, I., Nurbasari, A., Harianti, A., Malinda, M., Suwarno, H. L., Margaretha, Y., Vinsensius, Fedora, J. A., & Alanarima, A. E. (2019). Optimalisasi Program Pemasaran Bagi Pelaku Usaha Agrowisata Stroberi. Jurnal PATRIA, 1(2).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *