Agroindustri Cabai Berbasis Urban Farming Dengan Sistem Hidroponik

Cabai (Capsicum sp.) memiliki peranan penting dalam masakan, berfungsi sebagai bumbu penyedap dan penguat rasa karena memiliki rasa khas pedas. Kaya akan vitamin dan mineral serta dapat digunakan sebagai obat tradisional (Saptana et.al., 2010). Cabai merupakan komoditas hortikultura yang sangat potensial karena tanaman ini mudah dibudidayakan, memiliki nilai ekonomi tinggi, dan salah satu komoditas sayuran unggulan nasional. Komoditas ini sangat dibutuhkan untuk konsumsi rumah tangga maupun industri. Seiring dengan beragamnya jenis masakan yang menggunakan cabai serta permintaan industri (bumbu, mi instan) maka kebutuhan komoditas ini akan selalu meningkat (Hidayah , 2014).

Meskipun cabai mudah dibudidayakan, namun cabai termasuk kedalam tanaman musiman sehingga ketersediaannya bisa saja tidak memenuhi kebutuhan pasar akibatnya terjadi kelangkaan dan fluktuasi harga. Harga menjadi sangat vital perannya dalam hal keterjangkauan pangan secara ekonomi oleh masyarakat. Tingginya harga cabai dapat dipengaruhi oleh pola rantai distribusi dari produsen hingga ke konsumen. Semakin banyak pelaku kegiatan yang terlibat maka harga yang diterima oleh konsumen semakin tinggi karena setiap pelaku kegiatan memperoleh margin pengangkutan dan perdagangan (MPP). Menurut hasil survey pola distribusi tahun 2018 menunjukan MPP komoditas cabai merah adalah 43,09%. Dengan kata lain, kenaikan harga dari produsen hingga ke tangan konsumen sebesar 43,09% (Badan Pusat Statistik, 2019).

 

Keterjangkauan pangan baik secara ekonomi maupun fisik merupakan salah satu aspek yang harus diperhatikan dalam mewujudkan ketahanan pangan selain aspek ketersediaan pangan dan aspek pemanfaatan pangan. Oleh sebab itu sebagai solusi permasalahan yang dihadapi, masyarakat dapat berperan aktif untuk mewujudkan ketersediaan cabai dan menjaga kestabilan harga cabai dengan melakukan urban farming. Urban farming merupakan kegiatan menanam di area terbatas atau di daerah padat penduduk dengan memanfaatkan lahan yang ada untuk tujuan konsumsi pribadi atau langsung didistribusikan kepada konsumen. Oleh sebab itu urban farming dapat memperpendek pola distribusi sehingga harga komoditas menjadi lebih murah. Menurut Annisa et. al., (2016) kegiatan urban farming ini dapat mensuplai kebutuhan pangan dunia sebesar 15%.

Konsep urban farming cabai dapat dilakukan dengan sistem hidroponik, sistem ini tidak mengenal musim dan tidak memerlukan lahan yang luas namun memiliki produktivitas yang sama dengan tanaman yang dibudidayakan secara konvensional (Annisa et. al., 2016). Cara ini dapat diterapkan di lahan terbatas seperti pekarangan rumah atau di lahan bersama. Selain itu kebutuhan air untuk tanaman hidroponik lebih sedikit sehingga lebih efisien, cocok diterapkan pada daerah yang memiliki pasokan air terbatas, terutama di perkotaan padat penduduk.

Pada dasarnya sistem hidroponik hanya memanfaatkan air yang diperkaya dengan unsur hara dan nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman sebagai media tanam. Media tanam berfungsi sebagai kapiler yaitu mengantarkan larutan nutrisi ke akar tanaman. Faktor penentu pertumbuhuan tanaman secara hidroponik pada dasarnya sama seperti budidaya tanaman biasa. Faktor-faktor tersebut adalah air, oksigen, cahaya, suhu, nutrisi mineral, dan unsur hara. Air yang digunakan tidak memiliki tingkat alkalinitas tinggi dan kadar garam tinggi, karena menyebabkan ketidakseimbangan kandungan nutrisi dan gangguan pertumbuhan. Oksigen digunakan pada sistem perakaran untuk menyerap air dan unsur hara dari air. Pencahayaan yang dibutuhkan rata-rata 8-10 jam dengan matahari langsung. Tanaman. Suhu ideal 23oC – 26oC karena suhu yang terlalu tinggi atau terlalu rendah mengakibatkan pertumbuhan terganggu dan mengurangi produktivitasnya. Tanaman memerlukan pasokan mineral tertentu melalui akar untuk bertahan hidup. Makronutrien yang dibutuhkan berupa nitrogen, fosfor, kalsium, kalium, magnesium dan sulfur, sedangkan mikronutrien yang dibutuhkan seperti besi, mangan, boron, seng, dan tembaga. Pemberian unsur hara secara teratur sangatlah penting, larutan nutrisi yang berisi unsur hara tersedia bagi tanaman pada pH 6,5. Nutrisi hidroponik ini dapat mendukung pertumbuhan tanaman yang optimum. Larutan hidroponik yang umum digunakan adalah AB mix. A mix merupakan larutan yang mengandung unsur makro sedangkan B mix mengandung unsur mikro. (Setiawan, 2017).

Karena penanaman dengan sistem hidroponik dapat menghasilkan produktivitas yang tinggi dan pertumbuhan yang cepat maka ketersediaan komoditas cabai yang dibudidayakan akan melimpah. Namun cabai mudah mengalami pembusukan, hal ini justru akan menyebabkan kerugian. Untuk mengantisipasi hal tersebut dilakukanlah peramalan. Peramalan dapat digunakan untuk memperkirakan jumlah produksi dengan pergerakan harga komoditas agar tidak menyebabkan  kerugian ekonomi. Selain itu peramalan dapat digunakan untuk mengambil keputusan langkah selanjutnya setelah pascapanen terkait dengan melakukan perencanaan penjualan atau melakukan produksi.

Asrof et. al., (2017) menggunakan metode peramalan SSA (Singular Spectrum Analysis) untuk meramalkan produksi cabai merah dengan tingkat akurasinya berdasarkan nilai MAPE terkecil. Data yang digunakan merupakan data produksi cabai merah di Jawa Barat pada perode waktu antara Januari 2010 hingga Desember 2015. Hasil menunjukan peramalan produksi cabai merah di Jawa Barat pada bulan Juli 2016 terbilang rendah selama enam tahun terakhir. Sedangkan bulan Februari dan Desember 2016 terbilang cukup dibandingkan bulan lainnya pada tahun 2016. Novianti et. al., (2019) melakukan peramalan data permintaan agar nilai inventori di masa mendatang dapat diprediksi. Peramalan menggunakan metode probabilistik P kasus back order sehingga menghasilkan pengeluaran biaya total, nilai ukuran pemesanan, dan selang waktu pemesanan. Peramalan data permintaan digunakan metode exponential smoothing. Perhitungan ilustrasi ini dilakukan pada data permintaan produk cabai merah yang diperlukan oleh kafe “Kambing Soon Dago”.

Menurut Hidayah (2014) salah satu ciri pertanian modern tidak hanya memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga tetapi juga meningkatkan pendapatan. Pengolahan cabai menjadi produk yang bervariasi dan memiliki nilai tambah adalah salah satu bentuk pemenuhan ketersediaan pangan. Dalam hal ini pelaku usaha dapat memanfaatkan komoditas cabai yang dihasilkan melalui budidaya urban farming untuk diolah menjadi berbagai macam produk. Salah satu pengolahan yang dapat dilakukan adalah mengubah cabai segar menjadi produk cabai bubuk. Keuntungan lain dari diproduksinya cabai bubuk ini  adalah memperpanjang umur simpan dan dapat mengurangi volume bahan sehingga menghemat ruang, mempermudah pengangkutan dan pendistribusian.

Pengolahan ini dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu: proses sortasi, pencucian, blansir, pengeringan, penggilingan, dan pengemasan. Tahap sortasi merupakan langkah awal untuk memisahkan cabai yang berkualitas baik. Pencucian dilakukan untuk memastikan cabai yang akan diolah dalam kondisi bersih, bebas dari pengotor dan kontaminan. Proses blansir dapat dilakukan selama 6 menit pada suhu 100oC, bertujuan untuk mempertahankan warna dan menginaktivasi enzim. Pengeringan dapat dilakukan dengan cara alami (sinar matahari) atau dengan menggunakan peralatan modern seperti oven pengering. Tahap penggilingan dapat dilakukan dengan berbagai cara misalnya dengan peralatan yang sederhana (lumpang) atau modern (blender atau mesin penggiling). Cabai bubuk yang dihasilkan dapat dikemas dalam botol kaca atau botol plastik (Mikasari, 2016).

DAFTAR PUSTAKA

Annisa, Febri, & Leni. (2016). Urban Farming Bertani Kreatif Sayur, Hias, & Buah. Jakarta: AgriFlo (Penebar Swadaya Grup).

Asrof, A., Ischak, R., & Darmawan, G. (2017). Peramalan Produksi Cabai Merah di Jawa Barat Menggunakan Metode Singular Spectrum Analysis (SSA). Statistik, 17(2), 77-87.

Badan Pusat Statistik. (2019). Statistik Hortikultura. Jakarta: BPS RI.

Hidayah , A. K. (2014). Analisis Finansial Usahatani Cabai Merah Skala Petani di Kota Samarinda (Studi Kasus di Kelurahan Lemapake Samarinda). AGRIFOR, XIII(1).

Mikasari, W. (2016). Peningkatan Nilai Tambah komoditas Cabai Melalui Penerapan Inovasi Teknologi Penyimpanan dan Pengeringan di Provinsi Bengkulu. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu.

Novianti, N. P., Agustina, F., & Marwati, R. (2019). Peramalan Inventori Optimal Untuk Bahan Baku Menggunakan Metode Probabilistik P Kasus Back Order. Jurnal EurekaMatika, 7(1), 34 – 46.

Purnomo, J., Harjoko, D., & Sulistryo, T. D. (2016). Budidaya Cabai Rawit Sistem Hidroponik Substrat Dengan Variasi Media dan Nutrisi. Caraka Tani- Journal of Sustainable Agriculture, 31(2), 129-136.

Saptana, Daryanto, A., Daryanto, H. K., & Kuntjoro. (2010). Analisis Efisiensi Teknis Produksi Usahatani Cabai Merah Besaar dan Perilaku Petani Dalam Menghadapi Risiko. Jurnal Agro Ekonomi, 28(2), 153-188.

Setiawan, H. (2017). Kiat Sukses Budidaya Cabai Hidroponik. Yogyakarta: Bio Genesis.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *