Aeroponik Sebagai Metode Urban Farming Untuk Kentang

Salah satu permasalahan agroindustri pada era industri 4.0 adalah keterbatasan lahan untuk pertanian. Lahan-lahan pertanian semakin sedikit dan menyempit serta seringkali beralih fungsi menjadi tempat pemukiman. Saat ini Indonesia memiliki penduduk sekitar 270 juta jiwa tentu kebutuhan akan pemukiman akan menggerus lahan pertanian. Selain itu pemerintah juga sedang giat-giatnya membangun infrastruktur seperti jalan tol di berbagai daerah serta proyek kereta cepat Jakarta-Surabaya. Oleh karena itu, urban farming dapat menjadi salah satu solusi alternatif untuk keterbatasan lahan pertanian yang semakin berkurang.

Semenjak pandemi covid-19 merebak tren urban farming mulai kembali diminati karena tidak memerlukan lahan yang luas bahkan dapat dilakukan di pekarangan. Urban farming merupakan kegiatan pertanian yang dilakukan dengan teknologi sederhana pada lahan yang tidak terlalu luas dan terbatas di daerah perkotaan dengan teknik atau sistem tertentu. Berbagai metode urban farming diantaranya adalah

  1. Hidroponik : Metode ini menitikberatkan pada penggunaan air dan media selain tanah seperti pasir sebagai pembawa zat hara atau media tanam  dengan berbagai teknik dan kultur
  2. Aquaponik : Metode ini mengkombinasikan  hidroponik dengan akuakultur sehingga sering dilakukan pada tempat yang memiliki kolam-kolam ikan
  3. Vertikultur :Metode ini melakukan penanaman tanaman secara vertikal dan menjulang pada pot-pot bertingkat sehingga pengunaan lahan cukup efisien

Kentang (Solanum tuberosum L) merupakan salah satu makanan yang berasal dari umbi-umbian dan memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi. Di Indonesia pada umumnya kentang dikonsumsi bersama sayur-sayuran sedangkan di negara-negara Eropa dan Amerika kentang merupakan makanan pokok selain gandum. Keripik kentang dan French fries atau kentang goreng merupakan produk olahan kentang yang paling populer untuk dikonsumsi. Menurut Gunawan (2009) tanaman kentang menghendaki iklim yang ideal dengan suhu  rata-rata harian 18 – 24°C, dengan kelembapan 70 – 90%, sedangkan sinar matahari 15 – 18°C. Kombinasi suhu rendah dengan penyinaran matahari yang relatif pendek dapat berpengaruh baik terhadap pembentukan dan perkembangan umbi kentang. Pada umumnya kentang ditanam pada dataran tinggi diatas 500 mdpl.  Terdapat tiga macam varietas kentang yang dikembangkan di Indonesia diantaranya:

  1. Varietas Granola : Varietas ini dibudidayakan di daerah Sumatra Utara dan Jawa Tengah
  2. Varietas Atlantik : Varietas ini sering dipergunakan sebagai bahan baku pembuatan keripik tetapi hanya sekitar 25% saja yang diproduksi secara lokal sisanya sebagian besar masih impor
  3. Varietas Cipanas : Varietas ini dibudidayakan di daerah Jawa Barat

Di daerah Jawa Barat, kentang di budidayakan di daerah Bogor, Kabupaten Bandung khususnya Pangalengan, dan pada Kabupaten Bandung Barat pada kecamatan Parongpong dan Lembang.  Permasalahan kentang  yang sering timbul adalah sulitnya mencari bibit kentang yang memiliki kualitas yang unggul. Hal ini mempengaruhi resitensinya terhadap hama dan terhadap produktivitasnya. Salah satu cara meningkatkan produktivitas kentang adalah  dengan metode aeroponik.

Metode aeroponik dapat menjadi suatu metode alternatif yang potensial untuk urban farming selain dari ketiga metode urban farming yang telah dijelaskan sebelumnya karena tidak menggunakan tanah sebagai media tanam namun dapat menggunakan styrofoam. Perbedaan aeroponik dengan hidroponik adalah pada metode aeroponik zat nutrisinya tidak dialirkan melainkan dengan sistem pengkabutan.  Metode budidaya tanaman ini belum begitu populer  di Indonesia akan tetapi sudah cukup lama metode ini dikenal. Di Indonesia pertama kali aeroponik dikembangkan oleh Amazing farm di Lembang pada tahun 1998.  Jenis tanaman yang biasanya dibudidayakan dengan metode ini adalah sayuran daun seperti selada, kangkung, dan bayam. Pada metode aeroponik akar tanaman dibiarkan terbuka atau menggantung kemudian air bertekanan tinggi yang mengandung zat hara atau nutrisinya disemprotkan dalam bentuk kabut pada akarnya. Oleh karena itu, metode ini sering disebut bercocok tanam di udara yang secara harfiah adalah pengertian dari aeroponik itu sendiri. Pengunaan sprinkler dapat membantu proses penyemprotan agar air dan zat nutrisi yang dikandungnya dapat terdistribusi secara merata.  Hal yang harus diperhatikan pada metode aeroponik adalah kelembapan, intensitas cahaya, dan tekanan pada pompa. Agar terhindar dari hama penerapan metode aeroponik sebaiknya dilakukan dalam screen house atau green house.

Kelembapan merupakan salah satu faktor yang cukup vital dalam metode aeroponik. Apabila kelembapannya tinggi akan menyebabkan munculnya cendawan pada tanaman sebaliknya bila kelembapannya rendah maka tanaman akan layu karena mengkerutnya jaringan akibat kehilangan tekanan turgor pada sel tanaman. Oleh karena itu, kelembapan pada media tanam aeroponik harus stabil dan dikondisikan sesuai dengan yang dibutuhkan. Cahaya selain untuk fotosintesis yang perlu diperhatikan adalah intensitasnya. Jika intensitas cahaya yang ditangkap oleh daun terlalu besar maka akan merusak klorofilnya yang berakibat pada perubahan warna daun menjadi berwarna kuning karena panas sehingga mengganggu efektivitas proses fotosintesis. Selain itu permasalahan yang sering ditemukan di lapangan terkait dengan metode hidroponik adalah tekanan yang diberikan pada pompa kurang sesuai sehingga ketika air disemprotkan tidak membentuk kabut melainkan dalam bentuk butiran air kasar sehingga densitas oksigennya menurun. Salah satu kunci proses aeroponik adalah oksigenasi dari butiran kabut halus yang membawa zat hara atau nutrisi sampai ke akar karena semakin kecil butiran air maka persinggunggannya dengan udara akan lebih baik sehingga kandungan oksigennya menjadi lebih banyak. Hal tersebut dapat mempengaruhi perkembangan sayuran.

Keuntungan dari metode aeroponik selain tidak menggunakan tanah sebagai media tanam diantaranya:

  1. Pada pengoprasiannya tidak memerlukan tenaga kerja yang banyak sehingga lebih efisien
  2. Penanaman pada green house atau screen house dapat meminimalkan serangan hama sehingga dapat menjaga kualitas benih dan mengurangi penggunaan pestisida
  3. Pasokan sayuran dapat terjamin karena tidak tergantung oleh musim
  4.  Umur panen dapat diperpendek pada komoditas tertentu dengan kualitas yang sama sehingga dapat meningkatkan produktivitas panen
  5. Tumbuh dalam kondisi bersih dan terkontrol, hasil panen dari metode ini sangat segar dan organik

Disamping berbagai keuntungan dari metode aeroponik terdapat beberapa kerugian dari metode ini secara teknis diantaranya :

  1.  Membutuhkan biaya yang tidak murah karena prosesnya bergantung terhadap listrik untuk mengontrol tekanan pompa dan sprinkler
  2. Akibat listrik yang kurang stabil dapat mempengaruhi penyemprotan zat nutrisi
  3. Harus dipantau secara berkala dan berkelanjutan terkait dengan pengkondisian di dalam green house atau screen house agar lebih optimal dan menuntut pemeliharaan sanitasi yang tinggi

Penerapan metode aeroponik pada budidaya kentang telah diakukan oleh Sumarmi (2013) pada dataran rendah 250 mdpl dengan menggunakan teknik root zone cooling  atau pendinginan terbatas pada akar pada varietas kentang granola. Suhu pada akar diatur pada 10°C dengan menggunakan chiller yang juga berfungsi sebagai pendingin nutrisi. Hasilnya didapatkan 14-15 umbi pada setiap 45 populasi tanaman kentang. Jumlah total umbi yang dihasilkan adalah 579 buah dengan bobot rata-rata 409, 15 mg. Terbukti metode aeroponik dapat dilakukan di daerah dataran rendah sehingga dapat diterapkan sebagai metode urban farming namun masih perlu dikaji lebih lanjut.

Referensi :

Barkavi, et al. (2019). Urban based Agriculture using Aeroponic Technology.  International Research Journal of Engineering and Technology (IRJET) volume 06 Issue 03. https://www.irjet.net/archives/V6/i3/IRJET-V6I3420.pdf. Diakses : 15 November 2020

Gunawan, Hendra M.P. (2009). Inovasi Baru Perbanyakan Bibit Kentang G-0 Sistem Aeroponik. Balai Besar Pelatihan Pertanian Lembang. http://www.bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/529-aeroponik-kentang. Diakses : 15 November 2020

Putra, Pranandita Rivandi. (2019). 10 Fakta Unik Aeroponik, Teknik Budidaya Tanaman Pertanian di Udara. https://www.idntimes.com/life/diy/rivandi-pranandita-putra/aeroponik-teknik-budidaya-tanaman-pertanian-di-udara-pp-c1c2/10. Diakses : 15 November 2020

Sumarni, dkk. (2013). Pendinginan Zona Perakaran (Root Zone Cooling) pada Produksi Benih Kentang menggunakan Sistem Aeroponik. J. Agron. Indonesia 41 (2) : 154 – 159. Institut Pertanian Bogor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *